Perang Melawan Sampah Plastik
Ahmad Syam
Green Reporter
www.wargahijau.org, Monday, 27 April 2009 23:06
Jadilah rumah penuh dengan kantong plastik yang diperoleh dari swalayan. Itu belum termasuk kantong plastik yang diperoleh dari penjual ikan dan sayur yang setiap pagi lewat di depan rumah. Juga belum termasuk kantong plastik dari penjual gorengan.
Tentang kegunaan kantong plastik yang terakhir masyarakat harus waspada. Membungkus gorengan yang masih panas dengan kantong plastik, terutama kantong plastik hitam, dapat merugikan kesehatan.
Dikutip dari Kompas, salah seorang dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), I Made Arcana, meneliti bahaya zat pewarna hitam pada kantong plastik. Hasil penelitian Arcana menyebutkan bahwa jika terkena panas zat ini akan mengeluarkan senyawa yang memicu kanker. Bisa dibayangkan jika senyawa tersebut terdapat pada gorengan yang kita makan.
Kebiasaan menggunakan kantong plastik secara berlebihan memang perlu dihentikan. Diperkirakan setiap orang dari penduduk dunia menggunakan kurang lebih 170 kantong plastik setiap tahunnya. Asumsinya, setiap orang menggunakan minimal satu kantong plastik per hari.
Dengan demikian, jika berpatokan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan tahun 2006, dari sekitar 1,7 juta jiwa penduduk Kota Makassar berarti setiap tahunnya jumlah kantong plastik yang digunakan di Makassar kurang lebih 289 juta buah. Sementara untuk Sulsel dari jumlah penduduk di tahun yang sama 7,6 juta jiwa berarti sampah kantong plastik yang dihasilkan adalah 1,3 miliar buah setiap tahun.
Padahal kerusakan yang bisa ditimbulkan sampah plastik terhadap lingkungan luar biasa. Diperlukan sekitar 500-1000 tahun untuk sampah plastik terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Saat terurai pun, partikel-partikel plastik akan mencemari air tanah. Meracuni makanan binatang-binatang di tanah sehingga pada akhirnya mengancam mata rantai ekosistem.
Membakar sampah plastik juga bukan solusi yang baik karena akan berdampak buruk pada kesehatan. Plastik yang tidak terurai dengan baik saat dibakar akan menjadi dioksin di udara. Dioksin jika terhirup manusia akan menyebabkan berbagai sumber penyakit seperti hepatitis, pembengkakan hati, kanker, gangguan sistem syaraf, dan memicu depresi.
Say No to Plastic Bag
Sejumlah negara telah menerapkan peraturan yang memperketat swalayan menggunakan tas belanja plastik. Kebijakan negara-negara tersebut menyerupai gerakan anti kantong plastik secara global. Filipina, Swedia, Skotlandia, Jerman, Perancis, Hongkong, Taiwan, Irlandia, Finlandia, Denmark, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan, dan Singapura adalah beberapa dari negara itu. Bahkan Kenya dan Uganda telah melarang penggunaan kantong plastik di swalayan.
Juni 2008 pemerintah Cina pun mulai menerapkan larangan kepada swalayan untuk memberikan kantong plastik kepada konsumer. Bagi swalayan yang melanggar aturan tersebut pemerintah tidak segan-segan memberi denda sebesar 5.000 hingga 50.000 yuan (667 hingga 6.667 dollar Amerika atau sekitar Rp 7,3 juta hingga Rp 73,3 juta).
Langkah pemerintah Cina tersebut mengantisipasi meningkatnya penggunaan kantong plastik, khususnya di wilayah-wilayah yang mengalami booming di sektor ekonomi seperti Shenzhen City, Provinsi Guangdong. Di kota tersebut, swalayan mengkonsumsi kurang lebih 1,75 miliar kantong plastik setiap tahunnya.
Seperti tidak mau ketinggalan, pemerintah Australia juga ikut dalam kampanye anti kantong plastik. Hasilnya, setelah meluncurkan gerakan “say no to plastic bag” pada sekitar tahun 2003, setahun kemudian pemakaian kantong plastik berkurang 200 juta kantong plastik dari total kantong yang dipakai yakni 7 miliar buah per tahun.
Gerakan itu kini bahkan menjadi tren di Australia. Di swalayan-swalayan para kasir akan menanyakan kepada konsumer apakah membawa tas belanja atau ingin menggunakan kantong plastik. Jika kasir menanyakan demikian secara tidak langsung meminta konsumer untuk membawa tas belanja sendiri. Bahkan terdapat banyak toko yang tidak menyediakan kantong plastik sama sekali.
Swalayan-swalayan di Australia juga menyediakan tas belanja dari kain katun yang ramah lingkungan seharga 99 sen atau sekitar Rp 8.000. Hal yang sama dapat dijumpai pada salah satu swalayan di Cina, seperti swalayan Walmart. Di supermarket tersebut produksinya.
Green Shopper di Indonesia
Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa atau peringkat keempat di dunia, boleh jadi Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Apalagi pembatasan penggunaan kantong plastik belum digarap secara baik oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Padahal data KLH menunjukkan dari total volume timbunan sampah di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia yang mencapai 666 juta liter per tahun, sekitar 14 persen merupakan sampah plastik.
Budaya berbelanja pro-lingkungan atau yang lebih dikenal dengan jargon green shopper tidak tumbuh begitu saja. Konsumer biasanya hanya mengikuti tren yang ada. Perilaku konsumer dan masyarakat tergantung dari layanan swalayan. Jika swalayan membiasakan konsumer dengan kantong plastik maka kebiasaan menggunakan kantong plastik itulah yang berkembang.
Jadi regulasi yang harus dibuat adalah regulasi yang mengatur swalayan agar tidak leluasa memberikan kantong plastik kepada konsumer. Bahkan Indonesia bisa saja mengikuti langkah Cina yang memberi penalti kepada swalayan yang memberi kantong plastik kepada konsumer secara cuma-cuma.
Dengan menghentikan pemberian kantong plastik kepada konsumer, atau kalau tidak konsumer harus membayar untuk mendapatkannya, secara otomatis akan mengubah perilaku berbelanja. Konsumer perlahan akan membawa sendiri tas belanja dari rumah daripada harus membeli kantong plastik.
“Bring your own bag” merupakan program yang diberlakukan di Singapura dan Kanada. Singapura mulai mengkampayekan “bawa langsung tas belanja sendiri” sejak April 2007. Adapun Kanada, tepatnya di Manitoba, mengeluarkan peraturan pada tahun yang sama dengan melarang para pedagang toko memberi dan menjual kantong plastik kepada konsumen.
Di Australia juga mengalami apa yang disebut ”bring your own bag” di atas dalam empat tahun terakhir. Sebagian besar konsumer biasanya menolak untuk mendapatkan kantong plastik. Ketika kasir akan memasukkan barang belanjaan mereka ke kantong plastik, para konsumer itu akan mengatakan bahwa mereka membawa tas sendiri. Toko buku-toko buku di negara Kanguru itu bahkan tidak memberikan kantong plastik.
Pemandangan ini tentu akan berbeda jika berbelanja di Indonesia. Toko apapun dengan barang dagangan apa saja (selama masih bisa muat di dalam kantong plastik) konsumer pasti akan mendapatkan kantong plastik.
Prakarsa Carrefour
Belakangan ini di outlet-outlet Carrefour di Makassar mulai mengsosialisasikan tas belanja yang ramah lingkungan (eco-friendly bag). Kepada konsumer, kasir yang bertugas biasanya memperkenalkan dan menawarkan tas belanja yang terbuat dari kain katun tersebut.
Sebagai langkah awal memang tidak mudah merayu konsumer untuk beralih dari kantong plastik yang gratis ke tas belanja biodegradable (dapat terurai) yang harus dibeli. Karena itu, seharusnya harga tas belanja biodegradable yang dipatok Rp 10.000 masih perlu diturunkan. Bagi konsumer, uang senilai itu lebih baik digunakan untuk membeli susu anak ketimbang membeli tas belanja.
Tetapi apa yang dilakukan Carrefour patut diacungi jempol. Olehnya, pemerintah harus terlibat di dalam upaya mempercepat sosialisasi tas belanja biodegradable.
Bentuk keterlibatan pemerintah bisa dalam bentuk pemberian insentif kepada Carrefour sehingga harga tas belanja bisa lebih murah. Sebagai konsekuensi dari insentif tersebut, pihak Carrefour juga harus secara perlahan mengurangi memberikan kantong plastik kepada konsumer, kalau perlu menghentikan sama sekali.
Pada akhirnya, perang melawan sampah plastik harus melibatkan semua pihak. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang tepat tentang bahaya sampah plastik, baik bagi lingkungan maupun kesehatan. Pemerintah diharapkan aktif menyampaikan hal itu sehingga menyadari untuk mulai mengurangi menggunakan kantong plastik. Selain itu, semua swalayan dan pedagang toko mesti juga mengambil peran.
Dari semua disampaikan di atas, yang terpenting adalah regulasi dari pemerintah untuk membatasi penggunaan kantong plastik. Regulasi yang mengatur pabrik kantong plastik, regulasi yang memonitor penggunaan kantong plastik di swalayan dan di toko-toko, serta regulasi yang memperketat sirkulasi kantong plastik di masyarakat.
PENULIS: Ahmad Syam
Sunday, May 10, 2009
Wednesday, April 22, 2009
LIPUTAN
Hasanuddin University gets students through English contest
Ahmad Syam , Contributor , Makassar, South Sulawesi
The Jakarta Post Sun, 04/19/2009
Dozens of students and teachers were crammed into the main room of the Mattulada function hall, to attend the final round of the annual Perisai English Contest (Pilot), that was organized by the English Department students body (Perisai) of Hasanuddin University, in Makassar, South Sulawesi, on Feb. 22.
During this annual event school delegations took part in various competitions such as the speech, writing, storytelling, reading, and debate contests. The last contest was so popular that some schools entered more than one team.
Twenty-two high schools in South Sulawesi, West Sulawesi and Southeast Sulawesi took part in Pilot 2009, which was held under the theme "Becoming an International Student".
"This is the 7th time we have held this competition . But the number of participants was fewer this year than that in 2008. Last year, 29 schools took part," organizing committee secretary Mutmainnah Magfirah said, adding that the committee had invited 130 schools to join the competition, 48 of which are in Makassar.
On the last day of the event, teams from two favourite schools, SMU 17 Makassar and SMU 1 Maros, met in the final round of the debates. After 1 hour and 15 minutes, the judges named the SMU 17 team winners.
As well as their prize, winners were also offered places in the university's English language program, bypassing the regular enrolment exams.
"The competition is also our way to promote the faculty, especially the English Department," says Muh. Amir P, vice dean of Hasanuddin University's Cultural Studies Faculty.
Most graduates from the English department go on to take high-profile jobs, Amir said.
English, the faculty also offers courses in French, Indonesian, Japanese, Makassar, Buginese or Arabic languages. In 2011, the faculty is also planning to open new departments for Korean and Chinese languages.
"We have sent two members of staff to China to learn the language and culture. We will also invite Chinese lecturers to share knowledge," Amir said.
The Pilot competition is aimed at increasing students' abilities in English, lecturer Simon Sitoto says.
"Mastering English is getting more important by the day . The competition will encourage students to improve their English, written and verbal," he said.
Ahmad Syam is the coordinator of Jeneponto Hijau. He can be reached at matzamt@yahoo.com
Ahmad Syam , Contributor , Makassar, South Sulawesi
The Jakarta Post Sun, 04/19/2009
Dozens of students and teachers were crammed into the main room of the Mattulada function hall, to attend the final round of the annual Perisai English Contest (Pilot), that was organized by the English Department students body (Perisai) of Hasanuddin University, in Makassar, South Sulawesi, on Feb. 22.
During this annual event school delegations took part in various competitions such as the speech, writing, storytelling, reading, and debate contests. The last contest was so popular that some schools entered more than one team.
Twenty-two high schools in South Sulawesi, West Sulawesi and Southeast Sulawesi took part in Pilot 2009, which was held under the theme "Becoming an International Student".
"This is the 7th time we have held this competition . But the number of participants was fewer this year than that in 2008. Last year, 29 schools took part," organizing committee secretary Mutmainnah Magfirah said, adding that the committee had invited 130 schools to join the competition, 48 of which are in Makassar.
On the last day of the event, teams from two favourite schools, SMU 17 Makassar and SMU 1 Maros, met in the final round of the debates. After 1 hour and 15 minutes, the judges named the SMU 17 team winners.
As well as their prize, winners were also offered places in the university's English language program, bypassing the regular enrolment exams.
"The competition is also our way to promote the faculty, especially the English Department," says Muh. Amir P, vice dean of Hasanuddin University's Cultural Studies Faculty.
Most graduates from the English department go on to take high-profile jobs, Amir said.
English, the faculty also offers courses in French, Indonesian, Japanese, Makassar, Buginese or Arabic languages. In 2011, the faculty is also planning to open new departments for Korean and Chinese languages.
"We have sent two members of staff to China to learn the language and culture. We will also invite Chinese lecturers to share knowledge," Amir said.
The Pilot competition is aimed at increasing students' abilities in English, lecturer Simon Sitoto says.
"Mastering English is getting more important by the day . The competition will encourage students to improve their English, written and verbal," he said.
Ahmad Syam is the coordinator of Jeneponto Hijau. He can be reached at matzamt@yahoo.com
Wednesday, April 1, 2009
CERPEN
Cinta yang Dibungkus Kafan
Cerpen Ahmad Syam
(Lampung Post, 29 Maret 2009)
(Sriti.com, 29 Maret 2009)
Rosdiah memang pantas membuat setiap lelaki Desa Sattu tergila-gila. Rosdiah, tidak sebagaimana pada umumnya gadis-gadis lain di desa tersebut, kulitnya putih bersih. Wajahnya bundar persis bulan purnama yang sempurna. Jika sedang malu, terlihat tanda kemerah-merahan di pipinya.
Matanya akan berbinar-binar seperti bintang-gemintang bila diajak bicara. Itu menciptakan kesan bahwa di dasar matanya tersebut terdapat telaga keriangan.
Meski kerudung panjang dan baju kurung selalu rapi membungkus tubuh semampainya, tidak berarti tertutup keindahan pada tubuh itu. Toh cara berjalan remaja yang tahun ini baru saja menyelesaikan sekolah ibtidaiah melenggak-lenggok bak seorang peragawati.
Tidak ada yang tahu di mana Rosdiah mempelajari cara berjalan demikian. Apakah melalui tontonan di televisi? Apakah di kota saat dia berkunjung ke sana? Tidak ada warga desa yang mengetahui persis.
Bagi para lelaki, yang muda maupun yang telah beristri, itu bukan hal penting untuk diketahui. Bagi mereka jauh lebih penting memikirkan cara menarik hati Rosdiah. Menuntaskan hasrat yang selama ini terpendam dalam-dalam.
Atas desakan hasrat itu pula, Karaeng Beta mengikhlaskan dirinya dalam perjuangan yang teramat besar baginya di malam ini.
***
Sebenarnya Karaeng Beta tidak perlu merepotkan diri dengan melakukan semua itu. Kalau benar-benar mau dia akan mudah menjinakkan Rosdiah dengan harta yang dimiliki dan kebangsawanan yang dia sandang. Tentu Rosdiah, kedua orang tua, serta keluarga besarnya pun tidak akan sanggup menahan keinginan bersuamikan dan bermenantukan seorang karaeng. Harapan yang juga dipendam para gadis dan orang tua lainnya.
Tetapi Karaeng Beta punya pertimbangan lain. Dia tahu kalau bukan hanya dirinya yang kepincut kecantikan Rosdiah. Hampir semua lelaki di Desa Sattu menaruh hati padanya. Tidak terkecuali putra sulung wakil bupati dan anak remaja kepala kecamatan yang saban sore nongkrong di rumah Rosdiah. Bagi Karaeng Beta, kedua pemuda ini menjadi pesaingnya mendapatkan Rosdiah karena orang tua mereka adalah pejabat kabupaten.
Karena Karaeng Beta tahu bahwa setiap lelaki yang menaruh hati pada Rosdiah akan meminta bantuan Daeng Bonto, maka dia juga melakukan hal yang sama. Dia malah bersedia memberi upah lebih besar dari bayaran yang biasa diminta Daeng Bonto, dukun yang telah malang-melintang dan jarang gagal menangani urusan jodoh. Dengan bayaran lebih besar, ditambah janji bonus yang akan diserahkan kepada Daeng Bonto, Karaeng Beta mengusung keyakinan tinggi akan menjadi pemenang dalam persaingan memperebutkan Rosdiah.
Sebab itu, dia juga telah menyusun rencana mengajak Rosdiah silariang. Dia akan membawa sang pujaan hati ke tempat yang jauh. Kalau perlu, dia akan membawa Rosdiah ke Sumatera atau Papua sehingga keluarganya, termasuk anak dan istri, tidak bisa melacak keberadaan mereka.
Tentu seluruh warga desa akan dibuat gempar jika dia dan Rosdiah silariang. Warga akan membicarakan perihal dirinya yang lebih pantas menjadi bapak dari Rosdiah. Apalah dia yang seorang karaeng hanya mengawini gadis biasa dengan kekayaan yang tidak seberapa.
Istri, anak-anak, dan keluarga besar Karaeng Beta akan menyerang keluarga Rosdiah dengan kata-kata yang melecehkan. Bila dengan cara itu belum cukup menawar sakit hati, segalanya mungkin akan berakhir dengannya pecahnya kaca-kaca jendela rumah Rosdiah karena lemparan batu.
Keluarga Rosdiah niscaya tidak akan membalas perbuatan keluarga Karaeng Beta. Secara kultur mereka telanjur dianggap bersalah karena mengingkari nilai-nilai kepantasan.
Kegundahan hati akibat pelecahan tersebut diredam dengan kesabaran. Mereka hanya membuka mulut kepada para tetangga tanpa memiliki keberanian untuk berhadap-hadapan langsung dengan keluarga Karaeng Beta.
Tetapi kegundahan keluarga Rosdiah itu hanya ibarat busa di lautan yang dengan mudah dihempaskan gelombang kegembiraan tiada tara. Dalam hati, keluarga besar Rosdiah akan bersorak kegirangan karena berhasil berkerabat dengan turunan karaeng.
Lalu, warga desa akan saling berbisik; gadis tidak tahu malu, percuma dia berkerudung panjang kalau dengan gampangnya diajak silariang.
Ibu-ibu yang memiliki anak gadis yang paling terpukul, sekaligus dilematis. Satu sisi, mereka merasa anak-anak gadisnya telah kalah oleh Rosdiah. Tapi di lain sisi, mereka senang karena akan terbebas dari tugas sampingan menjagai secara diam-diam suami mereka dari pesona Rosdiah.
***
Dan pada waktu yang telah ditetapkan, malam Jumat di bulan tua, Karaeng Beta, telah mempersiapkan segalanya. Bunga mawar merah, sepotong kain baju bodo' merah tua, linggis kecil, dan sebotol air yang telah diberi berkah Daeng Bonto.
Dia harus menunggu istri dan anak-anaknya tertidur untuk melaksanakan hajatnya. Karaeng Beta telah mencampurkan air penerbit rasa kantuk ke minuman mereka menjelang petang. Memasukkan sepuluh biji beras merah pemberian Daeng Bonto ke dalam sarung bantal mereka. Tujuannya agar mereka tidur lebih cepat dan nyenyak. Daeng Bonto berulang kali mengingatkannya agar tidak seorang pun mengetahui dan melihatnya malam ini.
Prosesi appataba harus mengikuti setiap ketentuan sebagaimana anjuran dukun. Apalagi, dukun sekaliber Daeng Bonto yang sudah tersohor dan disegani ilmunya itu. Menyalahi syarat appataba bisa berakibat fatal bagi yang melakukan.
Salma, perawan tua Haji Natsir, merasakan akibat dari kesalahan appataba. Menurut cerita yang berkembang, dia lupa menyiramkan air berkah pada mawar merah yang telah dia tanam. Kini, pada setiap tengah malam, dia berteriak-teriak tak kuasa menahan panas di seluruh tubuh.
Soal kepercayaan warga desa terhadap perdukunan memang sudah turun-temurun. Bahkan sebelum dokter-dokter datang ke desa dan puskesmas-puskesmas didirikan, dukun-dukun dirujuk bila ada warga desa yang sakit. Kadang mereka sembuh. Namun, tidak sedikit yang justru semakin memburuk dan akhirnya meninggal.
Dahulu terdapat sejumlah dukun yang menetap di Desa Sattu dan desa-desa sekitarnya. Seiring waktu jumlahnya berkurang. Banyak di antara para dukun tersebut meninggal dunia. Anak-anak mereka lebih senang bekerja di kota ketimbang mewarisi ilmu perdukunan.
Ada juga cerita lain soal berkurangnya jumlah dukun. Katanya, sebagian dari mereka alih profesi setelah para ustaz intens menyampaikan kepada warga desa bahwa appataba termasuk perbuatan dosa. Imam desa, pada setiap ceramah tarawih di bulan Ramadan, tidak pernah lupa menyisipkan tema larangan appataba karena bisa menyebabkan celaka bagi siapa pun yang terlibat di dalamnya.
Sekarang tersisa Daeng Bonto dan Daeng Tarang, dukun dari Desa Camba. Ada kesepakatan umum yang mengganggap ilmu keduanya setingkat. Kemampuan keduanya sama.
Tetapi Daeng Bonto lebih dikenal sebagai dukun yang menguasai soal cinta dan perjodohan. Dia dikenal dengan ajian bunga mawar merah dan sepotong kain baju bodo'. Sedangkan Daeng Tarang dengan tiga jarum yang dibungkus potongan kain kafan siap membalaskan sakit hati dan amarah. Jadilah Daeng Bonto menjadi simbol kehidupan, sementara Daeng Tarang perlambang kematian.
Dan ketika malam merangkak semakin larut, Karaeng Beta telah begitu dekat ke rumah Rosdiah, sang gadis pujaan. Dia berharap Rosdiah ada di rumah malam ini. Demikianlah syarat yang diminta Daeng Bonto. Lagi pula, kalau Rosdiah tidak di rumah malam-malam begini, ke mana seorang gadis desa akan pergi, dan berkerudung pula, sepulang berjemaah isya di surau?
Sebenarnya jika melewati jalan desa, jalan yang baru saja dilakukan pengaspalan dan didirikan tiang-tiang lampu jalanan, jarak ke rumah Rosdiah hanya butuh sepuluh menit berjalan kaki.
Tetapi demi menjaga kerahasiaan, Karaeng Beta mengambil jalur lain. Dia berjalan di bawah cahaya bulan tua yang suram dengan penerangan lampu senter kecilnya. Menyusuri anak sungai yang berbatu-batu dan licin, menyisir ladang jagung luas, dan membelah kebun bambu.
Dia harus merelakan kakinya lecet terentuk batu kali, atau menahan rasa gatal tergores daun-daun jagung, juga membuang perasaan gentar atas jeritan batang-batang bambu yang bergesetan kala diterpa angin. Belum lagi rasa khawatir kalau-kalau berpapasan kawanan anjing liar dan lapar yang bisa menjadi sangat berbahaya karena sewaktu-waktu menyerang.
Dari balik kebun pisang, di belakang rumah Rosdiah, Karaeng Beta mengintai hingga benar-benar yakin tidak ada orang yang mengetahui keberadaan dirinya. Dengan cermat dia memperhatikan rumah Rosdiah dan rumah-rumah sekitarnya, menanti hingga lampu-lampu di rumah tersebut dipadamkan, ditinggal tidur penghuninya.
Saatnya tiba. Karaeng Beta keluar dari persembunyiannya. Berjalan perlahan dan sangat pelan menuju kolong rumah Rosdiah--rumah khas Makassar adalah rumah panggung dan memiliki tangga. Jantungnya berdegub keras. Dengan susah payah dia mengatur napas yang seperti memburu.
Karaeng Beta kini tepat di bawah tangga rumah Rosdiah. Dia membungkukkan tubuhnya saat berjalan ke anak tangga paling bawah. Sebagaimana lazimnya rumah-rumah di Desa Sattu, batu penyanggah tangga adalah batu besar setinggi kurang lebih empat puluh sentimeter yang diambil dari pegunungan. Ini memberi ruang yang cukup baginya membuang lubang di bawah anak tangga pertama dengan posisi badan yang nyaman.
Dia harus membuat lubang tepat di bawah anak tangga rumah Rosdiah. Membungkus bunga mawar dengan potongan kain baju bodo' dan menguburnya. Menutup lubang sedemikian rapi dan rata hingga tidak tampak bekas galian. Kemudian menyiramnya dengan air berkah Daeng Bonto.
Ketika menghujamkan linggis kecil ke tanah, tangannya bergetar hebat. Mata linggis seperti membentur tanah liat kering meski kenyataannya hanyalah tanah biasa yang masih basah karena hujan seharian kemarin.
Keringat dingin mulai bercucuran di kedua pelipis yang sesekali dia sapu dengan lengan bajunya. Karaeng Beta terus menggali sambil berusaha agar bunyi linggis yang membentur tanah tidak lebih besar dari suara jangkrik. Dia tidak ingin orang-orang di rumah Rosdiah terbangun.
Pada kedalaman lubang seperti yang dia inginkan, tiba-tiba dia terkejut dengan penemuan yang tidak dia harapkan; sebungkus potongan kain kafan yang berisi tiga jarum. Amarah dan rasa penasaran berbaur menjadi satu. Dia tahu pappataba itu milik Daeng Tarang. Tetapi, siapakah yang telah mengirimkan pappataba tersebut kepada Rosdiah? Siapakah yang justru ingin mencelakai, bahkan membunuh, Rosdiah?
Karaeng Beta mencoba membuat lubang di samping lubang yang pertama. Namun hasil yang dia dapat tetap sama, tiga jarum yang dibungkus potongan kain kafan. Demikian seterusnya hingga sepuluh lubang yang dia buat. Lubang-lubang yang lebih menguras emosi ketimbang tenaganya.
Amarahnya memuncak. Otot wajahnya mengeras. Giginya gemertak. Namun dia tetap menggali lubang. Terlintas dipikirannya menghubungi Daeng Tarang dan Daeng Bonto keesokan hari untuk meminta penawar pappataba. Tetapi dia buang pikiran itu saat menemukan mawar merah di dalam bungkusan kain kafan pada lubang ke sebelas.
Makassar, Januari, 2009
Ahmad Syam lahir 14 Agustus 1973, menetap di Jalan Paccinang Raya IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
OPINI
Para Caleg Belum Ramah Lingkungan
Oleh Ahmad Syam
(Anggota The Greening Australia)
(Koordinator Jeneponto Hijau)
TRIBUN TIMUR
Rabu, 25 Maret 2009 | 04:20 WITA
Semenjak Indonesia dan PBB menjadi tuan rumah bersama kampanye melawan global warming dan menghadapi climate change tahun 2007 di Bali, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi/kabupaten/kota telah menanam jutaan pohon. Namun begitu musim kampanye pemilu 2009 tiba kegiatan menanam pohon perlahan dilupakan
Kampanye pemilihan umum (pemilu) 2009 untuk anggota legislatif memang secara resmi baru dimulai pada 16 Maret lalu, tetapi isu yang diusung para calon anggota legislatif (caleg) sudah mulai terlihat beberapa minggu sebelumnya lewat poster dan papan iklan mereka.
Dari poster yang dipajang para caleg, hampir sebagian besar caleg menempatkan isu-isu kesehatan dan pendidikan gratis, demokratisasi, korupsi, dan kesejahteraan rakyat sebagai pendekatan politik kepada pemilih (voters). Sementara sama sekali tidak ada caleg yang mengangkat isu lingkungan sebagai jualan kampanye pada poster mereka.
Kurangnya perhatian para caleg terhadap isu lingkungan juga bisa diamati dari pemberitaan kegiatan kampanye caleg dan partai politik (parpol) di dua surat kabar lokal dengan oplah terbesar di Sulawesi Selatan. Minggu pertama masa kampanye resmi yang berlangsung 16-22 Maret, dari kurang lebih 420 berita kampanye pemilu 2009 hanya terdapat empat atau kurang dari satu persen berita kampanye yang di dalamnya terdapat isu lingkungan.
Dari sekitar 420 berita kampanye di surat kabar lokal tersebut, sekitar 60 persen mengusung isu pendidikan dan kesehatan gratis, 30 persen terkait dengan perbaikan infrastruktur seperti pembangunan sekolah dan perbaikan jalan, sisanya terbagi pada isu-isu pemberantasan korupsi, budaya, pengangguran dan lingkungan dengan porsi paling sedikit.
Kenyataan ini tentu suatu ironi karena para caleg bila terpilih duduk di dewan tersebut akan turut memberikan andil atas kebijakan pembangunan. Bisa dibayangkan bagaimana konsep pembangunan kelak direncanakan dengan tingkat kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan yang rendah. Boleh jadi prinsip pembangunan yang pro-investasi betul-betul akan steril dari pertimbangan-pertimbangan lingkungan.
Lihat saja pembangunan infrastruktur di Makassar, misalnya. Pembangunan pusat pertokoan seakan berlomba dengan investasi mal-mal. Wilayah yang dahulunya merupakan daerah resapan air berubah menjadi pertokoan dan mal. Sementara pada sisi lain tidak terdapat penambahan area untuk taman dan hutan kota. Alhasil, begitu musim hujan tiba-tiba sejumlah wilayah di Makassar tergenang air.
Bukan Prinsipil
Ada beberapa faktor sehingga isu lingkungan tidak menjadi isu utama dalam setiap kampanye. Pertama, isu lingkungan dalam penilaian caleg dianggap kurang marketable untuk masyarakat dibanding isu pendidikan dan kesehatan gratis atau perbaikan infrastruktur seperti perbaikan jalan.
Kedua, kemungkinan para caleg tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap aspek ekologis. Ini terkait dengan latar belakang para caleg seperti ruang beraktivitas mereka sebelum menjadi caleg.Jika sebagian besar caleg beraktivitas di perdagangan dan usaha tentu kesadaran ekologis bukan hal prinsipil bagi mereka.
Yang ketiga, boleh jadi para caleg takut mengangkat isu lingkungan karena khawatir mereka seperti melempar boomerang (permainan tradisional di Australia di mana alat yang dilempar kembali lagi kepada si pelempar). Misalnya, jika caleg mengkampayekan illegal logging khawatirnya kampanye tersebut justru membunuh usaha teman satu partai sendiri yang selama ini banyak membiayai kegiatan partai.
Trend isu kampanye memang seolah-olah berbanding terbalik dengan isu nasional dan lokal dalam dua tahun terakhir. Semenjak Indonesia dan PBB menjadi tuan rumah bersama kampanye melawan global warming dan menghadapi climate change tahun 2007 di Bali, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi/kabupaten/kota telah menanam jutaan pohon. Namun begitu musim kampanye pemilu 2009 tiba kegiatan menanam pohon perlahan dilupakan.
Padahal kampanye bisa menjadi media strategis mendidik masyarakat untuk peduli lingkungan. Perilaku dan seruan kampanye peduli lingkungan yang dicontohkan para caleg akan mudah diikuti masyarakat.
Sayangnya, jangankan untuk menyerukan menjaga lingkungan, para caleg terkadang membiarkan masyarakat membuang sampah botol minuman dan kardus nasi di lapangan seusai kampanye.
Green Party
Pada 21 Oktober 1998 lalu sejumlah pihak mendeklarasikan Green Party (partai hijau) dan telah terbentuk dalam suatu institusi. Setelah tidak menyepakati tidak ikut pemilu 1999, gema partai hijau justru berangsur menghilang. Keberadaan partai hijau semakin sulit terlacak pada dua pemilu setelahnya, 2004 dan kini 2009.
Meski salah satu partai besar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memproklamirkan sebagai Green Party menjelang pemilu 2009, namun Green Party ala PKB masih meragukan. Apakah Green Party ala PKB adalah partai hijau yang sesungguhnya, ataukah partai dengan warna hijau? Ini yang tidak jelas.
Keraguan atas klaim PKB tersebut beralasan mengingat secara umum parpol-parpol di Indonesia memiliki desain besar yang mencakup seluruh aspek kehidupan bernegara. Parpol serius menggarap dan mendesain isu-isu yang berhubungan langsung dengan upaya mendongkrak popularitas partai dan menarik simpatik masyarakat.
Kehadiran partai hijau di Indonesia sangat perlu karena sebagai negara dengan sumber daya alam yang besar, Indonesia harus memiliki pondasi politik lingkungan yang kuat. Sejauh ini dampak politik lingkungan yang lemah terlihat dari output kebijakan investasi.
Pemerintah terlalu longgar memberi kesempatan kaum kapitalis masuk dan mengeksploitasi alam Indonesia tanpa kendali. Akibatnya kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Lemahnya output politik lingkungan adalah konsekuensi dari input politik lingkungan yang lemah. Sirkulasi aspirasi yang pro-ekologi tidak begitu lancar mengalir ke ruang-ruang pengambilan kebijakan. Meski terdapat sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Wahana Lingkungan Hidup (walhi) yang aktif menyuarakan isu lingkungan, tetapi aspirasi LSM-LSM tersebut seringkali tersumbat karena tidak didukung infrastruktur politik.
Daya perlu infrastruktur politik yang pro-ekologi dalam wujud partai hijau yang nantinya memperjuangkan isu lingkungan tidak terlepas kurangnya minat parpol-parpol menjalankan fungsi artikulasi dan agregasi isu-isu lingkungan. Parpol yang ada masih menganggap isu lingkungan kurang "seksi" untuk dijual kepada voters.
Kalau di Indonesia partai hijau belum berkembang, di negara-negara lain bahkan sudah memiliki kursi di parlemen. Sejumlah negara yang memiliki partai hijau antara lain Australia, Brasil, Afrika Selatan, Jerman, Portugal, dan Filipina.
Partai hijau di negara-negara tersebut tidak saja memperjuangkan isu-isu lingkungan sebagai misi utama mereka. Secara umum, partai hijau juga mengusung gagasan-gagasan politik, budaya, sosial, dan ekonomi.***
Oleh Ahmad Syam
(Anggota The Greening Australia)
(Koordinator Jeneponto Hijau)
TRIBUN TIMUR
Rabu, 25 Maret 2009 | 04:20 WITA
Semenjak Indonesia dan PBB menjadi tuan rumah bersama kampanye melawan global warming dan menghadapi climate change tahun 2007 di Bali, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi/kabupaten/kota telah menanam jutaan pohon. Namun begitu musim kampanye pemilu 2009 tiba kegiatan menanam pohon perlahan dilupakan
Kampanye pemilihan umum (pemilu) 2009 untuk anggota legislatif memang secara resmi baru dimulai pada 16 Maret lalu, tetapi isu yang diusung para calon anggota legislatif (caleg) sudah mulai terlihat beberapa minggu sebelumnya lewat poster dan papan iklan mereka.
Dari poster yang dipajang para caleg, hampir sebagian besar caleg menempatkan isu-isu kesehatan dan pendidikan gratis, demokratisasi, korupsi, dan kesejahteraan rakyat sebagai pendekatan politik kepada pemilih (voters). Sementara sama sekali tidak ada caleg yang mengangkat isu lingkungan sebagai jualan kampanye pada poster mereka.
Kurangnya perhatian para caleg terhadap isu lingkungan juga bisa diamati dari pemberitaan kegiatan kampanye caleg dan partai politik (parpol) di dua surat kabar lokal dengan oplah terbesar di Sulawesi Selatan. Minggu pertama masa kampanye resmi yang berlangsung 16-22 Maret, dari kurang lebih 420 berita kampanye pemilu 2009 hanya terdapat empat atau kurang dari satu persen berita kampanye yang di dalamnya terdapat isu lingkungan.
Dari sekitar 420 berita kampanye di surat kabar lokal tersebut, sekitar 60 persen mengusung isu pendidikan dan kesehatan gratis, 30 persen terkait dengan perbaikan infrastruktur seperti pembangunan sekolah dan perbaikan jalan, sisanya terbagi pada isu-isu pemberantasan korupsi, budaya, pengangguran dan lingkungan dengan porsi paling sedikit.
Kenyataan ini tentu suatu ironi karena para caleg bila terpilih duduk di dewan tersebut akan turut memberikan andil atas kebijakan pembangunan. Bisa dibayangkan bagaimana konsep pembangunan kelak direncanakan dengan tingkat kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan yang rendah. Boleh jadi prinsip pembangunan yang pro-investasi betul-betul akan steril dari pertimbangan-pertimbangan lingkungan.
Lihat saja pembangunan infrastruktur di Makassar, misalnya. Pembangunan pusat pertokoan seakan berlomba dengan investasi mal-mal. Wilayah yang dahulunya merupakan daerah resapan air berubah menjadi pertokoan dan mal. Sementara pada sisi lain tidak terdapat penambahan area untuk taman dan hutan kota. Alhasil, begitu musim hujan tiba-tiba sejumlah wilayah di Makassar tergenang air.
Bukan Prinsipil
Ada beberapa faktor sehingga isu lingkungan tidak menjadi isu utama dalam setiap kampanye. Pertama, isu lingkungan dalam penilaian caleg dianggap kurang marketable untuk masyarakat dibanding isu pendidikan dan kesehatan gratis atau perbaikan infrastruktur seperti perbaikan jalan.
Kedua, kemungkinan para caleg tidak memiliki pemahaman yang baik terhadap aspek ekologis. Ini terkait dengan latar belakang para caleg seperti ruang beraktivitas mereka sebelum menjadi caleg.Jika sebagian besar caleg beraktivitas di perdagangan dan usaha tentu kesadaran ekologis bukan hal prinsipil bagi mereka.
Yang ketiga, boleh jadi para caleg takut mengangkat isu lingkungan karena khawatir mereka seperti melempar boomerang (permainan tradisional di Australia di mana alat yang dilempar kembali lagi kepada si pelempar). Misalnya, jika caleg mengkampayekan illegal logging khawatirnya kampanye tersebut justru membunuh usaha teman satu partai sendiri yang selama ini banyak membiayai kegiatan partai.
Trend isu kampanye memang seolah-olah berbanding terbalik dengan isu nasional dan lokal dalam dua tahun terakhir. Semenjak Indonesia dan PBB menjadi tuan rumah bersama kampanye melawan global warming dan menghadapi climate change tahun 2007 di Bali, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi/kabupaten/kota telah menanam jutaan pohon. Namun begitu musim kampanye pemilu 2009 tiba kegiatan menanam pohon perlahan dilupakan.
Padahal kampanye bisa menjadi media strategis mendidik masyarakat untuk peduli lingkungan. Perilaku dan seruan kampanye peduli lingkungan yang dicontohkan para caleg akan mudah diikuti masyarakat.
Sayangnya, jangankan untuk menyerukan menjaga lingkungan, para caleg terkadang membiarkan masyarakat membuang sampah botol minuman dan kardus nasi di lapangan seusai kampanye.
Green Party
Pada 21 Oktober 1998 lalu sejumlah pihak mendeklarasikan Green Party (partai hijau) dan telah terbentuk dalam suatu institusi. Setelah tidak menyepakati tidak ikut pemilu 1999, gema partai hijau justru berangsur menghilang. Keberadaan partai hijau semakin sulit terlacak pada dua pemilu setelahnya, 2004 dan kini 2009.
Meski salah satu partai besar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memproklamirkan sebagai Green Party menjelang pemilu 2009, namun Green Party ala PKB masih meragukan. Apakah Green Party ala PKB adalah partai hijau yang sesungguhnya, ataukah partai dengan warna hijau? Ini yang tidak jelas.
Keraguan atas klaim PKB tersebut beralasan mengingat secara umum parpol-parpol di Indonesia memiliki desain besar yang mencakup seluruh aspek kehidupan bernegara. Parpol serius menggarap dan mendesain isu-isu yang berhubungan langsung dengan upaya mendongkrak popularitas partai dan menarik simpatik masyarakat.
Kehadiran partai hijau di Indonesia sangat perlu karena sebagai negara dengan sumber daya alam yang besar, Indonesia harus memiliki pondasi politik lingkungan yang kuat. Sejauh ini dampak politik lingkungan yang lemah terlihat dari output kebijakan investasi.
Pemerintah terlalu longgar memberi kesempatan kaum kapitalis masuk dan mengeksploitasi alam Indonesia tanpa kendali. Akibatnya kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Lemahnya output politik lingkungan adalah konsekuensi dari input politik lingkungan yang lemah. Sirkulasi aspirasi yang pro-ekologi tidak begitu lancar mengalir ke ruang-ruang pengambilan kebijakan. Meski terdapat sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Wahana Lingkungan Hidup (walhi) yang aktif menyuarakan isu lingkungan, tetapi aspirasi LSM-LSM tersebut seringkali tersumbat karena tidak didukung infrastruktur politik.
Daya perlu infrastruktur politik yang pro-ekologi dalam wujud partai hijau yang nantinya memperjuangkan isu lingkungan tidak terlepas kurangnya minat parpol-parpol menjalankan fungsi artikulasi dan agregasi isu-isu lingkungan. Parpol yang ada masih menganggap isu lingkungan kurang "seksi" untuk dijual kepada voters.
Kalau di Indonesia partai hijau belum berkembang, di negara-negara lain bahkan sudah memiliki kursi di parlemen. Sejumlah negara yang memiliki partai hijau antara lain Australia, Brasil, Afrika Selatan, Jerman, Portugal, dan Filipina.
Partai hijau di negara-negara tersebut tidak saja memperjuangkan isu-isu lingkungan sebagai misi utama mereka. Secara umum, partai hijau juga mengusung gagasan-gagasan politik, budaya, sosial, dan ekonomi.***
Saturday, September 15, 2007
Cerita pendek
Para Jin Unjuk Rasa
Cerpen Ahmad Syam
(Lampung Post, Minggu, 2 September 2007)
(Sastra Koran Indonesia : www.sriti.com)
Saya baru akan memulai pelajaran pertama tatkala seorang siswa mengetuk pintu kelas. Saya membuka pintu dan menemuinya.
"Ada apa?"
"Anu, dua siswa-siswi kelas satu kesurupan, Pak!"
"Kesurupan? Kenapa bisa?"
"Aku juga kurang tahu, Pak! Tetapi Bapak diminta menolong siswa-siswi yang kesurupan itu!"
"Loh, kok saya yang dimintai tolong? Katakan kepada wali kelasnya bapak tidak pernah mengatasi orang kesurupan sebelumnya! Bapak tidak bisa membantu!"
"Baik, Pak!"
Tanpa sedikit pun terpengaruh dengan peristiwa tersebut, saya kembali melanjutkan pelajaran. Namun, ketika akan memulai menjelaskan pokok bahasan hari ini, tiba-tiba seorang siswa lainnya datang. Kali ini ketua organisasi lembaga pelajar di sekolah, si Andi.
"Ada apa lagi, Di?" tanya saya.
"Aku disuruh bapak kepala sekolah menemui Bapak!"
"Tentang siswa-siswi yang kesurupan itu juga?" tanya saya lagi.
"Benar, Pak! Jumlah siswa-siswi terus bertambah. Kini seluruh siswa-siswi dalam kelas yang jumlahnya empat puluh orang kesurupan. Mereka menjerit-jerit. Menangis sekeras-kerasnya. Membentur-benturkan kepala ke tembok. Berguling-gulingan di lantai. Malahan, seorang siswi membanting semua kursi dan meja yang ada dalam kelas. Jika ada yang mencoba memegangnya, dia meronta-ronta melepaskan diri. Dia menghardik, menyerang, menendang, menempeleng, dan menjambat rambut siapa pun yang berusaha mendekat!"
"Baik, Nak! Katakan kepada bapak kepala sekolah saya akan segera menyusul ke sana," ujar saya memotong Andi cepat-cepat karena tidak tahan mendengar kisahnya lebih banyak.
Selama dua puluh tahun saya mengabdi sebaga guru di sekolah ini baru kali ini ada kejadian siswa-siswi kesurupan. Tidak tanggung-tanggung pertama terjadi langsung dalam jumlah besar.
Hal itu tentu saja membuat pihak sekolah kelabakan. Dan, sayalah yang dianggap mumpuni mengatasi kejadian tersebut. Pertimbangannya, karena saya seorang guru agama yang mengerti hal-hal gaib.
Tentu saja saya mengelak dan mengusulkan supaya memanggil orang yang sudah biasa menghadapi hal demikian. Saya jelaskan kepada kepala sekolah dan seluruh guru yang hadir saat itu bahwa saya bukanlah orang yang tepat meski pernah melihat bagaimana orang kesurupan dihadapi dan diobati.
***
Peristiwanya masih dulu sekali di kampung istri saya di sebuah desa kecil di Jawa. Seorang anak yang sedang bermain di dekat kuburan tua, tidak jauh dari pohon asam yang telah berumur puluhan tahun, tanpa tahu kenapa tiba-tiba mengelepar-gelepar di tanah. Dia menjerit dan meraung sangat kuat. Teman sepermainannya datang mengabarkan kepada orang tuanya dan warga desa.
Si anak kemudian dibawa ke balai desa dan salah seorang warga bergegas memanggil orang pintar, seorang dukun kampung. Warga desa sering memanggilnya Mbah Tumi. Dia terkenal bukan saja di desanya tetapi sampai ke desa-desa tetangga. Seluruh warga desa mempercayainya akan sanggup mengusir roh jahat yang dianggap sering masuk ke jasad warga.
Dalam kepercayaan orang-orang di kampung istri saya saat itu, sebenarnya roh jahat yang masuk ke dalam jasad warga berasal dari roh leluhur yang biasa disebut "Mbah". Mbah itu meninggal beberapa puluh tahun yang lalu. Dia dikuburkan di dekat pohon asam itu.
Masih menurut cerita orang di kampung istri saya, si mbah itu dikenal sakti. Karena itu, ketika dia meninggal rohnya tidak sampai ke langit. Entah mengapa rohnya tertahan di pintu langit. Roh tersebut kemudian gentayangan yang sewaktu-waktu berubah wujud menjadi kelelawar yang terlihat di pohon asam pada malam hari. Terkadang juga masuk ke jasad warga.
Begitu Mbah Tumi mulai beraksi dengan membaca mantra-mantra seraya menjepit ibu jari kaki si anak dengan kuat, kontan mata si anak melotot ke arahnya. Tatapannya begitu tajam dan menyala. Tetapi Mbah Tumi yang sudah terbiasa itu terlihat tidak gentar. Tidak lama kemudian, perlahan dia mulai dapat mengatasi hingga berlangsung dialog diantara keduanya.
"Siapa kamu?" tanya Mbak Tumi.
"Apa perlunya kamu menanyakan itu, heh!" katanya lantang dengan suara serak, menyerupai suara kakek-kakek.
"Jangan banyak bertingkah, cepat kamu keluar dari jasad anak ini!" perintah Mbah Tumi tidak kalah lantang.
"Kalau saya tidak mau keluar!"
"Apa yang kamu inginkan? Anak ini tidak bersalah!"
"Siapa bilang tidak bersalah. Dia nakal karena selalu bermain di sekitar rumahku!"
"Di mana rumah kamu?"
"Ah, kamu bertanya segala lagi. Puih! Apa kamu pura-pura tidak tahu?" katanya dengan nada sinis .
Dialog antara Mbah Tumi dengan roh dalam jasad anak itu berlangsung lama. Tetapi, bukan Mbah Tumi jika tidak berhasil memenangkan pertarungan tersebut. Mbah Tumi lalu menyarankan warga desa untuk merawat kuburan tua dan pohon besar itu. Membersihkan dari daun-daun kering yang jatuh. Memagarinya supaya anak-anak mereka tidak lagi memasuki wilayah itu untuk bermain.
Saat itu, saya setengah yakin setengah tidak dengan kepercayaan itu. Namun, semenjak saya mendapat kesempatan mempelajari agama lebih banyak di perguruan tinggi saya kemudian menolaknya sama sekali.
Masak ada roh gentayangan? Hakikatnya semua roh yang telah berpisah dengan jasadnya akan kembali kepada pemiliknya, yakni Tuhan. Lagi pula sangat tidak pantas jika roh manusia yang mulia itu berubah menjadi kelelawar atau sejenis binatang lainnya.
Menurut saya, sesungguhnya bukan roh jahat yang masuk ke tubuh warga kampung melainkan sebangsa jin yang berperilaku jahat.
"Kok, ada jin yang senang berperilaku jahat?" tanya seorang warga sekembali saya ke kampung setelah menamatkan kuliah.
"Karena ada juga jin yang baik!" jawab saya datar.
"Kalau ada jin baik, kenapa harus ada jin yang jahat?" tanyanya lagi.
"Sebenarnya tidak pantas disebut jin jahat. Jin-jin itu pada dasarnya sama dengan manusia. Ya sama-sama ciptaan Tuhan. Mereka juga terdiri atas jenis laki-laki dan perempuan sehingga mereka bisa kawin dan beranak pinak. Para jin itu menetap di mana saja. Bisa di pohon-pohon besar, di gedung-gedung bertingkat, di hutan ataupun di kota. Di rumah-rumah kita juga banyak jin yang numpang tinggal, hanya saja kita tidak melihatnya. Bahkan, mereka juga bisa menetap dalam tubuh kita. Kelebihan jin dibanding manusia karena mereka bisa mengubah diri mereka menjadi apa saja. Bisa kelelawar, kerbau, kuda, pokoknya apa saja!" urai saya panjang lebar.
"Tetapi kenapa jin itu sering iseng atau nakal kepada manusia? Apa mereka kurang kerjaan?"
"Saya kira bukan itu masalahnya! Sebagai sesama makhluk jin juga mendambakan hidup damai dan berdampingan secara baik-baik dengan manusia. Kalau mereka banyak yang nakal dan menganggu kehidupan manusia jangan-jangan justru manusia yang lebih dahulu iseng mengusik kehidupan mereka!"
"Lalu bagaimana dengan cerita roh gentayangan?"
"Menurut saya, ya, itu jin yang menyerupai jasad manusia yang telah meninggal!"
***
Meski para guru dan siswa lainya sedikit kewalahan, semua siswa-siswi yang kesurupan sudah berhasil ditenangkan. Memang sulit dipercaya dengan akal sehat bila seseorang kesurupan. Bayangkan, seorang siswi mampu melepaskan diri dari beberapa guru pria yang mencoba menenangkannya. Siswi tersebut seperti memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan lima orang guru pria.
Saya mengumpulkan keberanian untuk mengusir jin-jin dalam tubuh siswa-siswi. Akhirnya dengan susah payah saya mampu meyakinkan diri dapat melakukannya. Tetapi saya tidak mungkin mengobati satu per satu siswa-siswi yang kesurupan sebab akan mengambil waktu yang lama. Mungkin diperlukan waktu berjam-jam jika saya mengatasi jin-jin yang berada dalam jasad empat puluh siswa-siswi.
Saya lalu mengelilingi mereka semua yang kini dibaringkan di aula. Setiap siswa atau siswi dipegangi sekurangnya lima orang. Saya sengaja berkeliling dengan harapan menemukan wajah siswa-siswi paling merah, marah, dan beringas. Biasanya, bos jin berada pada tubuh yang paling kuat meronta-ronta.
Tetapi dengan cara demikian saya masih mendapatkan kesulitan. Hampir semua siswa-siswi yang kesurupan menujukkan wajah yang sama. Wajah penuh amarah. Memandang dengan sinis. Sorot mata yang tajam. Dan, dari mulut mereka semua keluar suara-suara seperti sedang mendesis.
Menyaksikan hal tersebut nyali saya kembali turun. Saya sudah mundur kalau saja bukan faktor kasihan melihat siswa-siswi itu. Belum lagi bila menatap wajah kepala sekolah dan guru-guru yang begitu menaruh harapan besar kepada saya.
Sekali lagi saya mengumpulkan keberanian dan perlahan mendekati salah seorang siswi. Dia dipegangi lima orang. Tangannya yang terentang dijaga oleh dua orang. Begitu pula pada kakinya terdapat dua orang. Satu orang lagi berjaga-jaga di bagian kepala kalau-kalau dia berusaha bangkit.
Begitu jarak saya dengannya berkisar setengah meter, siswa tersebut meludah ke atas dan tepat mengenai wajah saya. Dugaan saya, inilah cara jin yang berada dalam jasad memancing kemarahan sehingga konsentrasi saya terganggu.
Saya membaca doa-doa dan menjepit ibu jari kakinya dengan kuat. Tidak lama kemudian jin dalam jasad siswa mau angkat bicara.
"Aku dan teman-temanku tidak akan keluar sebelum tuntutan kami dipenuhi!" katanya dengan suara serak dan begitu emosional.
"Apa tuntutan kalian? Kalian salah karena menganggu siswa-siswi yang tidak bersalah ini!"
"Tetapi manusia yang lebih dahulu mengusik kami! Masak kami diburu-buru!"
"Siapa yang memburu kalian?"
"Itu para tim pemburu jin. Bahkan yang lebih menyakitkan karena manusia menyajikannya lewat sebuah tayangan langsung di sejumlah televisi swasta!"
"Kalau begitu kalian salah alamat! Ganggu saja manusia-manusia yang memburu, menangkap, dan memasukkan sebangsa kalian dalam TV untuk kepentingan komersil!" tegas saya yang seketika itu teringat istri dan anak-anak. Bukankah itu tayangan yang mereka tunggu-tunggu setiap malam?
Salatiga-Canberra, 2005-2006
------------------------------------------------------------
Cerpen Ahmad Syam
(Lampung Post, Minggu, 2 September 2007)
(Sastra Koran Indonesia : www.sriti.com)
Saya baru akan memulai pelajaran pertama tatkala seorang siswa mengetuk pintu kelas. Saya membuka pintu dan menemuinya.
"Ada apa?"
"Anu, dua siswa-siswi kelas satu kesurupan, Pak!"
"Kesurupan? Kenapa bisa?"
"Aku juga kurang tahu, Pak! Tetapi Bapak diminta menolong siswa-siswi yang kesurupan itu!"
"Loh, kok saya yang dimintai tolong? Katakan kepada wali kelasnya bapak tidak pernah mengatasi orang kesurupan sebelumnya! Bapak tidak bisa membantu!"
"Baik, Pak!"
Tanpa sedikit pun terpengaruh dengan peristiwa tersebut, saya kembali melanjutkan pelajaran. Namun, ketika akan memulai menjelaskan pokok bahasan hari ini, tiba-tiba seorang siswa lainnya datang. Kali ini ketua organisasi lembaga pelajar di sekolah, si Andi.
"Ada apa lagi, Di?" tanya saya.
"Aku disuruh bapak kepala sekolah menemui Bapak!"
"Tentang siswa-siswi yang kesurupan itu juga?" tanya saya lagi.
"Benar, Pak! Jumlah siswa-siswi terus bertambah. Kini seluruh siswa-siswi dalam kelas yang jumlahnya empat puluh orang kesurupan. Mereka menjerit-jerit. Menangis sekeras-kerasnya. Membentur-benturkan kepala ke tembok. Berguling-gulingan di lantai. Malahan, seorang siswi membanting semua kursi dan meja yang ada dalam kelas. Jika ada yang mencoba memegangnya, dia meronta-ronta melepaskan diri. Dia menghardik, menyerang, menendang, menempeleng, dan menjambat rambut siapa pun yang berusaha mendekat!"
"Baik, Nak! Katakan kepada bapak kepala sekolah saya akan segera menyusul ke sana," ujar saya memotong Andi cepat-cepat karena tidak tahan mendengar kisahnya lebih banyak.
Selama dua puluh tahun saya mengabdi sebaga guru di sekolah ini baru kali ini ada kejadian siswa-siswi kesurupan. Tidak tanggung-tanggung pertama terjadi langsung dalam jumlah besar.
Hal itu tentu saja membuat pihak sekolah kelabakan. Dan, sayalah yang dianggap mumpuni mengatasi kejadian tersebut. Pertimbangannya, karena saya seorang guru agama yang mengerti hal-hal gaib.
Tentu saja saya mengelak dan mengusulkan supaya memanggil orang yang sudah biasa menghadapi hal demikian. Saya jelaskan kepada kepala sekolah dan seluruh guru yang hadir saat itu bahwa saya bukanlah orang yang tepat meski pernah melihat bagaimana orang kesurupan dihadapi dan diobati.
***
Peristiwanya masih dulu sekali di kampung istri saya di sebuah desa kecil di Jawa. Seorang anak yang sedang bermain di dekat kuburan tua, tidak jauh dari pohon asam yang telah berumur puluhan tahun, tanpa tahu kenapa tiba-tiba mengelepar-gelepar di tanah. Dia menjerit dan meraung sangat kuat. Teman sepermainannya datang mengabarkan kepada orang tuanya dan warga desa.
Si anak kemudian dibawa ke balai desa dan salah seorang warga bergegas memanggil orang pintar, seorang dukun kampung. Warga desa sering memanggilnya Mbah Tumi. Dia terkenal bukan saja di desanya tetapi sampai ke desa-desa tetangga. Seluruh warga desa mempercayainya akan sanggup mengusir roh jahat yang dianggap sering masuk ke jasad warga.
Dalam kepercayaan orang-orang di kampung istri saya saat itu, sebenarnya roh jahat yang masuk ke dalam jasad warga berasal dari roh leluhur yang biasa disebut "Mbah". Mbah itu meninggal beberapa puluh tahun yang lalu. Dia dikuburkan di dekat pohon asam itu.
Masih menurut cerita orang di kampung istri saya, si mbah itu dikenal sakti. Karena itu, ketika dia meninggal rohnya tidak sampai ke langit. Entah mengapa rohnya tertahan di pintu langit. Roh tersebut kemudian gentayangan yang sewaktu-waktu berubah wujud menjadi kelelawar yang terlihat di pohon asam pada malam hari. Terkadang juga masuk ke jasad warga.
Begitu Mbah Tumi mulai beraksi dengan membaca mantra-mantra seraya menjepit ibu jari kaki si anak dengan kuat, kontan mata si anak melotot ke arahnya. Tatapannya begitu tajam dan menyala. Tetapi Mbah Tumi yang sudah terbiasa itu terlihat tidak gentar. Tidak lama kemudian, perlahan dia mulai dapat mengatasi hingga berlangsung dialog diantara keduanya.
"Siapa kamu?" tanya Mbak Tumi.
"Apa perlunya kamu menanyakan itu, heh!" katanya lantang dengan suara serak, menyerupai suara kakek-kakek.
"Jangan banyak bertingkah, cepat kamu keluar dari jasad anak ini!" perintah Mbah Tumi tidak kalah lantang.
"Kalau saya tidak mau keluar!"
"Apa yang kamu inginkan? Anak ini tidak bersalah!"
"Siapa bilang tidak bersalah. Dia nakal karena selalu bermain di sekitar rumahku!"
"Di mana rumah kamu?"
"Ah, kamu bertanya segala lagi. Puih! Apa kamu pura-pura tidak tahu?" katanya dengan nada sinis .
Dialog antara Mbah Tumi dengan roh dalam jasad anak itu berlangsung lama. Tetapi, bukan Mbah Tumi jika tidak berhasil memenangkan pertarungan tersebut. Mbah Tumi lalu menyarankan warga desa untuk merawat kuburan tua dan pohon besar itu. Membersihkan dari daun-daun kering yang jatuh. Memagarinya supaya anak-anak mereka tidak lagi memasuki wilayah itu untuk bermain.
Saat itu, saya setengah yakin setengah tidak dengan kepercayaan itu. Namun, semenjak saya mendapat kesempatan mempelajari agama lebih banyak di perguruan tinggi saya kemudian menolaknya sama sekali.
Masak ada roh gentayangan? Hakikatnya semua roh yang telah berpisah dengan jasadnya akan kembali kepada pemiliknya, yakni Tuhan. Lagi pula sangat tidak pantas jika roh manusia yang mulia itu berubah menjadi kelelawar atau sejenis binatang lainnya.
Menurut saya, sesungguhnya bukan roh jahat yang masuk ke tubuh warga kampung melainkan sebangsa jin yang berperilaku jahat.
"Kok, ada jin yang senang berperilaku jahat?" tanya seorang warga sekembali saya ke kampung setelah menamatkan kuliah.
"Karena ada juga jin yang baik!" jawab saya datar.
"Kalau ada jin baik, kenapa harus ada jin yang jahat?" tanyanya lagi.
"Sebenarnya tidak pantas disebut jin jahat. Jin-jin itu pada dasarnya sama dengan manusia. Ya sama-sama ciptaan Tuhan. Mereka juga terdiri atas jenis laki-laki dan perempuan sehingga mereka bisa kawin dan beranak pinak. Para jin itu menetap di mana saja. Bisa di pohon-pohon besar, di gedung-gedung bertingkat, di hutan ataupun di kota. Di rumah-rumah kita juga banyak jin yang numpang tinggal, hanya saja kita tidak melihatnya. Bahkan, mereka juga bisa menetap dalam tubuh kita. Kelebihan jin dibanding manusia karena mereka bisa mengubah diri mereka menjadi apa saja. Bisa kelelawar, kerbau, kuda, pokoknya apa saja!" urai saya panjang lebar.
"Tetapi kenapa jin itu sering iseng atau nakal kepada manusia? Apa mereka kurang kerjaan?"
"Saya kira bukan itu masalahnya! Sebagai sesama makhluk jin juga mendambakan hidup damai dan berdampingan secara baik-baik dengan manusia. Kalau mereka banyak yang nakal dan menganggu kehidupan manusia jangan-jangan justru manusia yang lebih dahulu iseng mengusik kehidupan mereka!"
"Lalu bagaimana dengan cerita roh gentayangan?"
"Menurut saya, ya, itu jin yang menyerupai jasad manusia yang telah meninggal!"
***
Meski para guru dan siswa lainya sedikit kewalahan, semua siswa-siswi yang kesurupan sudah berhasil ditenangkan. Memang sulit dipercaya dengan akal sehat bila seseorang kesurupan. Bayangkan, seorang siswi mampu melepaskan diri dari beberapa guru pria yang mencoba menenangkannya. Siswi tersebut seperti memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan lima orang guru pria.
Saya mengumpulkan keberanian untuk mengusir jin-jin dalam tubuh siswa-siswi. Akhirnya dengan susah payah saya mampu meyakinkan diri dapat melakukannya. Tetapi saya tidak mungkin mengobati satu per satu siswa-siswi yang kesurupan sebab akan mengambil waktu yang lama. Mungkin diperlukan waktu berjam-jam jika saya mengatasi jin-jin yang berada dalam jasad empat puluh siswa-siswi.
Saya lalu mengelilingi mereka semua yang kini dibaringkan di aula. Setiap siswa atau siswi dipegangi sekurangnya lima orang. Saya sengaja berkeliling dengan harapan menemukan wajah siswa-siswi paling merah, marah, dan beringas. Biasanya, bos jin berada pada tubuh yang paling kuat meronta-ronta.
Tetapi dengan cara demikian saya masih mendapatkan kesulitan. Hampir semua siswa-siswi yang kesurupan menujukkan wajah yang sama. Wajah penuh amarah. Memandang dengan sinis. Sorot mata yang tajam. Dan, dari mulut mereka semua keluar suara-suara seperti sedang mendesis.
Menyaksikan hal tersebut nyali saya kembali turun. Saya sudah mundur kalau saja bukan faktor kasihan melihat siswa-siswi itu. Belum lagi bila menatap wajah kepala sekolah dan guru-guru yang begitu menaruh harapan besar kepada saya.
Sekali lagi saya mengumpulkan keberanian dan perlahan mendekati salah seorang siswi. Dia dipegangi lima orang. Tangannya yang terentang dijaga oleh dua orang. Begitu pula pada kakinya terdapat dua orang. Satu orang lagi berjaga-jaga di bagian kepala kalau-kalau dia berusaha bangkit.
Begitu jarak saya dengannya berkisar setengah meter, siswa tersebut meludah ke atas dan tepat mengenai wajah saya. Dugaan saya, inilah cara jin yang berada dalam jasad memancing kemarahan sehingga konsentrasi saya terganggu.
Saya membaca doa-doa dan menjepit ibu jari kakinya dengan kuat. Tidak lama kemudian jin dalam jasad siswa mau angkat bicara.
"Aku dan teman-temanku tidak akan keluar sebelum tuntutan kami dipenuhi!" katanya dengan suara serak dan begitu emosional.
"Apa tuntutan kalian? Kalian salah karena menganggu siswa-siswi yang tidak bersalah ini!"
"Tetapi manusia yang lebih dahulu mengusik kami! Masak kami diburu-buru!"
"Siapa yang memburu kalian?"
"Itu para tim pemburu jin. Bahkan yang lebih menyakitkan karena manusia menyajikannya lewat sebuah tayangan langsung di sejumlah televisi swasta!"
"Kalau begitu kalian salah alamat! Ganggu saja manusia-manusia yang memburu, menangkap, dan memasukkan sebangsa kalian dalam TV untuk kepentingan komersil!" tegas saya yang seketika itu teringat istri dan anak-anak. Bukankah itu tayangan yang mereka tunggu-tunggu setiap malam?
Salatiga-Canberra, 2005-2006
------------------------------------------------------------
Sunday, September 9, 2007
Artikel
Indonesian students perform dance at Open Day
(The Jakarta Post, September 9, 2007)
Ahmad Syam, Contributor, Canberra
Eight dancers -- a group of Indonesian, Japanese, Taiwanese, Singaporean and Australian students -- performed brilliantly, charming University of Canberra (UC) Open Day visitors recently.
As representatives of UC Indonesia Students Societies (UCISS), they performed the Likok Pulo dance. The traditional dance from Nanggroe Aceh Darussalam opened the annual event.
Their costumes sparkled in the sunlight. They wore gold-colored hats that were very bright under the sun. The sarongs worn by the women featured rich colors including red, green, yellow, pink, brown and orange.
The students performed impressively. They successfully captured the spirit of the Likok Pulo dance, with its rhythms and dynamic motion.
Open Day is an event in Australia held every Aug. 25 to promote schools and universities as well as other institutions.
Likok Pulo, in the Acehnese tradition, begins with greetings, as it is a dance to welcome guests -- a symbol of respect and apologies if something unpleasant has happened.
The motion, on the other hand, depicts the dynamic of life. Even for Aceh people, all dances, including Likok Pulo, are dedicated to Prophet Muhammad.
UCISS as part of PPIA-UC (Indonesia Australia Student Association University of Canberra) not only presents dance, but also has an Indonesia stall.
Information about Indonesia is contained in pamphlets, posters, booklets and many other items.
In order to attract visitors, UCISS also provide traditional Indonesian food such as rissoles, jenang (porridge) and wajik (sweet steamed rice) at stalls.
For Indonesians, the stall will remedy their longing for Indonesian food while for others it is an opportunity to taste appetizing Indonesian cakes.
Something that make the UCISS stall unique is that they produce rissoles live on stage. The team brought kitchen equipment to demonstrate the entire cooking method for rissoles.
In less than two hours the special food from Indonesia was sold out.
At 1.45 p.m. UCISS performed the Likok Pulo dance again. The second performance was in order to join in the Master Talent Contest.
The contest was open to anyone -- individuals or groups -- to demonstrate their talent. The contest is an additional program at every Open Day event.
The winners will be divided into several categories; most courageous, humongous (enormous), humorous and glamorous.
The UCISS dancers team was most glamorous.
UCISS president Sadewa Herwindu told The Jakarta Post Indonesian students continuously promote Indonesian culture in Australia.
UCISS, founded in March 2001, brings Indonesian UC students together. Its main purpose is to expand networking between UCISS and UC through education, social and cultural programs.
This year UCISS launched Forum Indonesia as a monthly discussion program.
Internally, the objective of the program is to enhance students' understanding of Indonesia problems. Beside, it is aimed at strengthening students' presentation ability in English.
The program also strengthens the Indonesia-Australia relationship.
Since its launch, Forum Indonesia has held two events. The first took the topic of climate change and Indonesia's forests; the second was on the general election and challenge for policy-making in Aceh.
Wednesday, August 15, 2007
Short story
A young man and two tellers
(The Jakarta Post, January 28, 2007)
By Ahmad Syam
All the customers standing in line for the bank teller shouted when a young man pushed in at the front of the queue.
He was wearing a blue shirt, black trousers, red tie and a black blazer and ignored others who had been patiently waiting in the long queue.
Both tellers, on the other hand, welcomed him and smiled at him sweetly. One must have said to him: "Good afternoon, Sir! What can I do for you?" He whispered something to her and she just kept nodding.
He put his bag on the counter in front of the teller.
In the meantime, a number of customers who had been standing in line for what seemed like hours got annoyed when the teller served him.
"Damn! He must be a rich man!"
"He can't do that, though!"
"I think he might be a bureaucrat!"
"Whoever he is, he must join the queue for bank service!"
"You're right! He shouldn't jump the queue!"
*****
It was 6.30 a.m. when I had left home. I had hoped I could avoid a long queue if I arrived early. Besides, it took about an hour to get to the bank on Jl. Diponegoro, Salatiga.
However, many customers had had the same idea; that was why there was already a long queue by 7.45 a.m. outside the bank, which would be open at 8 am.
It was to be expected as this was the last day of business before a long break. Banks would be closed for a week due to the Lebaran holiday; hence, customers had to anticipate what they might need during that time.
As a result they waited patiently in line, even though it seemed to take hours. There was no other choice. Leaving the queue would only bring other problems.
My wife, for instance, would be waiting for me at home and she would ask many questions. "How much cash did you get, honey? Is it enough to cover our expenses during Lebaran and a week after?"
"We're also going to go to visit our parents, you have taken that into account, haven't you?"
Knowing that I had withdrawn money, my children, of course, would say, "I want a new shirt!" Then, my second child would say, "I need new shoes, Dad!"
All this came to mind as I stood a long way back in the queue. Basically, if all customers had followed the bank's advice they would not have needed to be stuck in a long queue every year as Lebaran approached.
The bank had advised customers to get an automatic teller machine (ATM) card. They had even offered them one. With such a card customers could avoid queues.
Administration costs however, had alienated customers, especially those on a low salary. They seemed to prefer to stand in endless queues.
They didn't want to waste hard-earned money on bank charges.
*****
The tellers, both young women, were busy with the young man who seemed to be withdrawing a huge amount of money. One of them had to take boxes of money from other tellers. They both looked exhausted.
The appearance of the teller infuriated me. I felt tellers should not show any nervous tension when serving customers. They had been trained, as tellers, to perform their job in a cheerful manner, hadn't they?
Meanwhile, the young man stood at the counter. He sometimes looked impatient. He leaned over toward the window several times.
"Damn! A rich man with a bad temper! Look at him! Even though the tellers have given him top priority he is still displeased!"
"Probably, he is a rich man or a bureaucrat!"
"He has no sense of courtesy!"
"He's too rude!"
"He's putting both tellers under pressure, that is why they look awkward."
The customers stood in the long queue and didn't stop grumbling. Initially, they grumbled because the tellers had let the young man jump the queue.
However, they stopped blaming the tellers when they saw how the young man was harassing them.
I kept silent because this was the fasting month. At such time Muslims should not only fast but also avoid getting angry. I worried it could break my fast. To keep calm I told myself that this was to be expected in a big city.
Not only were the customers grumbling but they begun stamping their feet on the floor making strange noises. The young man ignored them.
Now, one of the tellers was filling the young gentleman's bag with money. The bag was getting fuller all the time.
The tellers had spent about 20 minutes serving the young man. I thought that was an appropriate time, considering he had withdrawn such a lot of money. Usually, each transaction only took five minutes if a customer made a small withdrawal. Most transactions only took five minutes.
After receiving his bag the young gentleman whispered something to the tellers, who just nodded.
Then the young man left hurriedly.
The bank returned to normal. The customers were cooling down.
However, when a customer stepped up to the counter both tellers began to shout, "Oh no, don't come here! That man just left a time bomb. Also, he robbed our bank!
Salatiga, December 2005
(The Jakarta Post, January 28, 2007)
By Ahmad Syam
All the customers standing in line for the bank teller shouted when a young man pushed in at the front of the queue.
He was wearing a blue shirt, black trousers, red tie and a black blazer and ignored others who had been patiently waiting in the long queue.
Both tellers, on the other hand, welcomed him and smiled at him sweetly. One must have said to him: "Good afternoon, Sir! What can I do for you?" He whispered something to her and she just kept nodding.
He put his bag on the counter in front of the teller.
In the meantime, a number of customers who had been standing in line for what seemed like hours got annoyed when the teller served him.
"Damn! He must be a rich man!"
"He can't do that, though!"
"I think he might be a bureaucrat!"
"Whoever he is, he must join the queue for bank service!"
"You're right! He shouldn't jump the queue!"
*****
It was 6.30 a.m. when I had left home. I had hoped I could avoid a long queue if I arrived early. Besides, it took about an hour to get to the bank on Jl. Diponegoro, Salatiga.
However, many customers had had the same idea; that was why there was already a long queue by 7.45 a.m. outside the bank, which would be open at 8 am.
It was to be expected as this was the last day of business before a long break. Banks would be closed for a week due to the Lebaran holiday; hence, customers had to anticipate what they might need during that time.
As a result they waited patiently in line, even though it seemed to take hours. There was no other choice. Leaving the queue would only bring other problems.
My wife, for instance, would be waiting for me at home and she would ask many questions. "How much cash did you get, honey? Is it enough to cover our expenses during Lebaran and a week after?"
"We're also going to go to visit our parents, you have taken that into account, haven't you?"
Knowing that I had withdrawn money, my children, of course, would say, "I want a new shirt!" Then, my second child would say, "I need new shoes, Dad!"
All this came to mind as I stood a long way back in the queue. Basically, if all customers had followed the bank's advice they would not have needed to be stuck in a long queue every year as Lebaran approached.
The bank had advised customers to get an automatic teller machine (ATM) card. They had even offered them one. With such a card customers could avoid queues.
Administration costs however, had alienated customers, especially those on a low salary. They seemed to prefer to stand in endless queues.
They didn't want to waste hard-earned money on bank charges.
*****
The tellers, both young women, were busy with the young man who seemed to be withdrawing a huge amount of money. One of them had to take boxes of money from other tellers. They both looked exhausted.
The appearance of the teller infuriated me. I felt tellers should not show any nervous tension when serving customers. They had been trained, as tellers, to perform their job in a cheerful manner, hadn't they?
Meanwhile, the young man stood at the counter. He sometimes looked impatient. He leaned over toward the window several times.
"Damn! A rich man with a bad temper! Look at him! Even though the tellers have given him top priority he is still displeased!"
"Probably, he is a rich man or a bureaucrat!"
"He has no sense of courtesy!"
"He's too rude!"
"He's putting both tellers under pressure, that is why they look awkward."
The customers stood in the long queue and didn't stop grumbling. Initially, they grumbled because the tellers had let the young man jump the queue.
However, they stopped blaming the tellers when they saw how the young man was harassing them.
I kept silent because this was the fasting month. At such time Muslims should not only fast but also avoid getting angry. I worried it could break my fast. To keep calm I told myself that this was to be expected in a big city.
Not only were the customers grumbling but they begun stamping their feet on the floor making strange noises. The young man ignored them.
Now, one of the tellers was filling the young gentleman's bag with money. The bag was getting fuller all the time.
The tellers had spent about 20 minutes serving the young man. I thought that was an appropriate time, considering he had withdrawn such a lot of money. Usually, each transaction only took five minutes if a customer made a small withdrawal. Most transactions only took five minutes.
After receiving his bag the young gentleman whispered something to the tellers, who just nodded.
Then the young man left hurriedly.
The bank returned to normal. The customers were cooling down.
However, when a customer stepped up to the counter both tellers began to shout, "Oh no, don't come here! That man just left a time bomb. Also, he robbed our bank!
Salatiga, December 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)