Friday, April 30, 2021

29 April (6) Prakiraan Rindu Hari Ini

 


29 April 2021. Makassar pagi hari cerah. Langitnya biru muda. Di siang hari Makassar berangsur mendung. Langitnya berawan tebal yang warnanya dominan kehitaman ketimbang putih. Lalu sore hari awan tersebut semakin menghitam sehingga langit sebagian terlihat menghitam. Suara gemuruh panjang dan berbalasan. Tidak lama dan mesti tak berlangsung lama akhirnya turun gerimis. Titik airnya membawa kesejukan setelah hampir dua pekan terik matahari mengepung udara. Titik airnya mendekap debu-debu dan tanah yang kerontang sejak permulaan April ini. Ya, kata para prakirawan cuaca  kemarau sudah mengintip dan bergegas paling lambat akhir penanggalan keempat ini.

29 April 2021. Makassar hari ini mewakili apa yang berlangsung dalam diriku: tentang semangat yang tetap mengembara dalam kedalaman jalan-jalan sunyi; tentang rasa putus asa yang menebal dan hampir menutupi seluruh langit harapan; dan gerimis di mata yang kembali berjatuhan. Sudah lebih setahun perempuan yang dahulu dengan kosa kata terbatas kamu memanggilnya mama tak berdaya dengan ujian sakit. Tubuhnya tempat di mana kamu pernah bermain di dalamnya kini dihuni sel-sel jahat yang seolah ingin merampas keceriaan dan mengurung dirinya dengan murung. Lalu, lebih tiga pekan lalu, 6 April, kakekmu yang mungkin dahulu kamu belum mengenal sebutan untuk dia sebagaimana kakak-kakakmu memanggilnya telah pulang ke alam di mana kamu berada sekarang. Apakah kamu sudah menyambutnya?

29 April 2021. Makassar hari ini juga dalam naungan dari kemuliaan bulan suci Ramadan 1442. Hari ini bertepatan dengan 17 Ramadan yang memilki banyak keistimewaan termasuk kilasan sejarah diturunkankan Al-Quran. Ayat pertama dalam peristiwa sakral di Gua Hira tersebut adalah seruan Iqra, membaca. Betapa hebat seruan ini karena mengamanahkan membaca segala peristiwa yang dihadapi dan ditemui. Bukan hanya peristiwa tentang yang datang lalu pergi, yang suka lalu duka, tetapi juga yang sebaliknya yang pergi kemudian datang, duka kemudian suka. Membaca bahwa dalam perputaran semesta ini tidak ada yang benar-benar mengabadi baik yang pergi maupun yang datang, entah yang suka atau pun yang duka. Mereka silih berganti.

29 April 2021. Tetapi diantara hal-hal yang silih berganti tersebut terdapat sifat-sifat ketuhanan yang mengabadi seperti menyayangi dan mengasihi. Meski telah enam tahun kita dalam ruang kehidupan yang terpisah ada kasih sayang yang menautkan kita. Kata yang menyederhanakan kasih dan sayang adalah rindu. Ya, rindu yang ada dalam genggaman tangan, rindu yang terjaga di pelupuk mata, rindu yang menyisakan sebentuk lubang di hati. Rindu padamu, Nak….


Makassar, 29 April 2021/17 Ramadan 1442

Monday, December 14, 2020

...kami memenuhi panggilanMU...




Hari ini, Jumat (11/8), aku menamatkan bacaan Qur'an beberapa saat sebelum Jumatan dimulai di Masjid Brunswick Islamic Centre. Aku tidak merencanakan sebelumnya tamat bacaan Qur'an tepat di hari paling mulai ini, tetapi sungguh membuat aku sangat bersyukur dapat melakukannya.

Aku hanya menargetkan sebelum berangkat berhaji aku menamatkan bacaan Qur'an yang masih tersisa beberapa juz. Harapannya ketika berhaji nanti yang berkisar 28 hari, termasuk perjalanan pulang pergi, aku bisa menamatkan bacaan Qur'an sekali lagi.

Jumat malam ini aku akan bersiap berangkat memenuhi panggilan Allah SWT ke Baitullah. Pesawat dari maskapai Emirates akan menerbangkan kami (saya dan istri) dari runway Tullamarine, Melbourne, pada Sabtu (12/8) shubuh pukul 05.00.

Destinasi pertama ke Dubai dengan lama penerbangan kurang lebih 14 jam. Jadwal pendaratan di kota terbesar di negeri Uni Emirat Arab pukul 13.00 siang (ada selisih waktu 6-7 jam antara Melbourne dan Dubai). Berikutnya, Pukul 01.15 Emirates akan menerbangkan kami lagi ke Medinah dan terjadwal tiba Ahad (13/8) pukul 03.00 dinihari.

Tiga hari terakhir sebelum keberangkatan perasaan aku campur aduk dari haru, sedih, dan bahagia. Kabar kepastian mendapatkan visa haji dari Kedutaan Besar Arab Saudi baru sampai Rabu (9/8). Mata saya berkaca-kaca saat itu. Alhamdulillah doa-doa agar kami dimudahkan segala urusan perjalanan ke Baitullah dijawab Allah SWT. Semoga Allah SWT memudahkan perjalanan-perjalanan berikutnya dalam rangkaian ibadah haji dan umrah.

Sedihnya karena untuk beberapa pekan berpisah dengan anak-anak. Mereka telah lebih dahulu dipulangkan sementara ke Makassar sebulan yang lalu. Insya Allah dalam 4-5 pekan ke depan kembali berkumpul lagi, aamiin Allahumma aamiin.

Bahagianya karena mendapatkan kesempatan memenuhi panggilan Allah SWT berkunjung ke Baitullah (hakikatnya semua umat Muslim telah dipanggil ke Baitullah oleh Allah SWT).

Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Inna l-hamdu wan-ni'mata laka wa l-mulk la syarika laka....

Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kami memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian, nikmat, dan kerajaan itu adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu

DK,
Jumat, 11 Agustus 2017

Wednesday, April 29, 2020

29 April (5) : Kepada Senyum di Sisi Kasur



29 April 2020. Makassar cerah seharian di hari ke-6 puasa Ramadan ini. Tadi pagi usai sahur dan shalat subuh saya berbaring sejenak sambil mengingat beberapa kenangan di tahun-tahun yang lalu. Satu kenangan itu diantaranya adalah tentang pagi musim gugur yang dingin di Brunswick. Pagi yang gelisah, penuh kecemasan, dan sedih karena ada perpisahan yang semula dijadwal hanya sementara.

Pagi itu memang tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Kamu dibangunkan lebih cepat padahal biasanya kami serumah membiarkan dirimu tertidur sampai batas yang kamu inginkan. Terkadang di sela penantian, kami serumah mengintip lewat pintu dan saat melihat dirimu masih pulas kami besarkan kesabaran.


Ada alasan lain kenapa kami serumah sesekali melihatmu dari pintu yang hanya terbuka sekepala itu. Seringkali kamu sudah terbangun tetapi tak bersuara, tak memanggil. Kami tidak tahu sudah berapa lama kamu bangun sebelum dirimu akhirnya memanggil, "maaaa…mamaaaa!" Lalu kami serumah berhamburan masuk kamar dengan riang gembira karena tak sabar bertemu dirimu. Kami mendapati dirimu telah duduk di sisi kasur sambil bersandar ke tembok dengan tersenyum-senyum.


Sambil menunggu taksi yang akan membawa dirimu bersama bunda dan kedua kakak, saya sempat menggendong dirimu. Tidak ada firasat saat itu akan menjadi kali terakhir saya mendekapmu, merasakan hangat pipimu,dan wangi rambutmu. Jika saya tidak merasakan firasat itu, apakah kamu yang merasakannya? Sampai taksi berlalu yang membawa kalian berempat menuju bandara tiba-tiba saya merasa kehilangan besar. Apakah itu firasat? Apakah rindu pada dirimu yang berkecamuk di hari-hari selanjutnya adalah juga firasat? Entah.


29 April 2020. Makassar cerah meski sesekali awan tebal menutupi sinar matahari terjun bebas ke bumi. Tadi pagi saat berbaring saya membaca beberapa kenangan beberapa tahun silam yang kembali diingatkan oleh akun medsos milik saya. Satu diantaranya adalah peristiwa pada hari dan tanggal yang sama dengan hari ini, Rabu 29 April

tetapi berjarak lima tahun dari hari ini.

Pagi itu pagi untuk bermalas-malasan karena tak ada jadwal masuk kerja. Usai shalat Subuh saya kembali berbaring di atas kasur sambil menonton live streaming seorang kawan di Jakarta yang memberikan kuliah Subuh di satu station TV. Di sela iklan komersial dari acara itu saya membuka info-info hasil pertandingan bola yang berlangsung semalam.


Lalu tiba-tiba suara notifikasi yang memberi kode ada pesan masuk di ponsel saya. Bunyi pesan itu kurang lebih bahwa semalam dirimu sakit dan tadi subuh masuk ruang perawatan di rumah sakit. Kenapa pada malamnya saya tidak mendapat firasat apa-apa? Apakah dirimu sengaja tak mengirim firasat itu agar saya tidak harus cemas?


Sungguh perasaan saya saat itu tidak karuan. Ingin rasanya segera bergegas menjumpaimu untuk mengusap-usap kepalamu, untuk sekadar menyentuhkan kedua pipi kita, untuk meletakkan tanganku di atas dadamu. Tetapi ribuan kilometer membentang di antara kita saat itu.


29 April 2020. Makassar cerah hari ini tetapi matahari bersinar redup. Beberapa malam yang lalu saya berbisik pada gelap semoga kita dapat bersua. Bukankah sudah lama kita tidak bertemu? Kali terakhir kamu datang mengulum senyum dua tahun yang lalu.


Sungguh saya khawatir apakah kamu tak kunjung datang karena tidak menangkap firasat yang saya kirimkan? Atau, sinyal rindu yang terantar dari saya semakin melemah sehingga tak cukup kuat menggerakkan dirimu untuk datang?


Makassar, 29 April 2020

Saturday, August 17, 2019

Berlarilah...Berlarilah...Seperti Sitti Hajar




Sepagi ini sepasang suami-istri itu sudah mendiskusikan satu agenda penting. Agenda Idul Adha yang seminggu lagi menjelang. Tentang keinginan tetap ikut berpartisipasi menyembelih hewan kurban seperti tahun-tahun sebelumnya.  Hanya saja, tahun ini rencana berkurban tepat ketika keuangan lagi pas-pasan.

***
Baru pindah di kota Melbourne tiga bulan lalu memang terasa berat dalam hal pengaturan keuangan. Membayar uang muka sewa rumah, membayar asuransi keluarga, membeli perabot rumah tangga, dari perabot yang berat-berat  (harga tentu saja berat) seperti spring-bed, kulkas, meja, kursi, mesin cuci hingga perabot yang ringan-ringan (tetapi harganya tetap jadi berat karena banyak) seperti piring, gelas, sendok, microwave, dan lainnya. Terakhir, membayar imunisasi anak.

Apalagi Melbourne adalah satu dari dua kota di Australia dengan biaya hidup mahal. Tentang hal tersebut, sepasang suami-istri ini sudah punya gambaran. Sebelum menjatuhkan pilihan untuk menetap dan bermukim sementara di Melbourne, mereka sudah menggali informasi tentang biaya hidup di kota yang terkenal dengan keberagaman penduduk dan budayanya tersebut. Belum lagi dengan membawa tiga orang anak.

Tetapi pembayaran dan biaya-biaya tersebut masih bisa disiasati dengan manajemen pengeluaran yang baik. Misalnya, belanja bukan berdasarkan faktor keinginan melainkan kebutuhan. Artinya, ya belanja untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja. Bahasa orang ekonominya: menunda kebutuhan sekunder karena kebutuhan primer lebih utama hehehe.

Di saat kebijakan pengetatan pengeluaran berjalan, tiba-tiba ada kabar buruk lainnya. Uang stipend si istri yang bersumber dari sponsor pemberi beasiswa harus dipotong. Kenapa? Setelah ditanyakan ternyata si istri dianggap melanggar aturan. Mengambil jedah waktu meninggalkan Australia selama seminggu. Padahal berdasarkan peraturan tidak boleh meninggalkan Australia di luar jatah liburan yang telah ditetapkan satu bulan dalam satu tahun. Si Istri tidak tahu aturan tersebut karena memang baru diberlakukan. Dan, ketidaktahuan tersebut tidak berpengaruh sebagai alasan, pemotongan uang stipend yang lumayan besar tetap berjalan.

 Sebelumnya kami ingin menjelaskan dahulu bahwa rencana awal pemotongan hanya satu kali tetapi langsung yang dipotong totalnya. Kami tentu saja berpikir keras kalau pemotongan langsung totalnya maka bulan depan uang belanja hanya cukup untuk dua minggu, plus (nah ini yang lebih seram) tidak bisa membayar sewa rumah dan tagihan bulanan lainnya --air, listrik, dan internet. Setelah bernegosiasi akhirnya mendapatkan kebijakan (sekaligus kebajikan buat kelaurga kami), pemotongan berlangsung bertahap.

Nah, masa-masa menjalani pemotongan dalam tiga bulan ini (September-November) menjadi masa hidup yang paling seru. Meski tidak sampai mengencangkan ikat pinggang, namun yang pasti sekuat mungkin menelan air liur. Sepintar-pintarnya bisa memberi jawaban yang tepat dan nge-pas bila bocah-bocah kami merengek dibelakang ini-itu. Belanja ikan nyaris tidak pernah. Daging sesekali. Telur jadi langganan. Bungkus mie instant memenuhi tempat sampah dapur.

Selama masa pemotongan berlangsung, setengah dari biaya hidup terbantu dari gaji yang masih berjalan di Indonesia. Meski gaji tidak besar tetapi menyelamatkan kami. Tentu tidak lepas dari kisah-kisah menarik tentang gaji dari Indonesia ini ‘berjuang’ menyelamatkan kami. Ya, saya katakan gaji dari Indonesia juga ‘berjuang’ karena harus melawan gap kurs antara Rupiah dan Dollar Australia yang semakin tajam.  Kurs saat ini di kisaran Rp10.000-an untuk $1 Australia. Jadi sangat terasa gaji di Indonesia yang sudah kecil menjadi semakin kecil setelah dikonversi ke Dollar Australia.

Misalnya,  untuk potong rambut  dengan $13 Australia atau sama dengan Rp130.000. Wah Rp130.000 kalau di Indonesia sudah bisa beli macam-macam, di Australia cuma untuk potong rambut hehehe (jadi ingat sama langganan cukur saya di Makassar yang hanya Rp12.000+plus pijat-pijat kepala dan leher pakai balpirik).

Tetapi serunya hidup seperti tidak kunjung berhenti. Satu dari (hanya) dua laptop di rumah kami tiba-tiba rusak. Wah, bagaimana ini? Padahal si istri sedang dikejar laporan tugas-tugas kuliah. Bocah-bocah butuh menggunakan laptop buat nge-games. Lalu si suamii pun harus menyelesaikan beberapa artikel. Yaaa...kejadian deh saling rebutan menggunakan laptop. Tetapi pemenangnya selamanya para bocah-bocah itu hehe....
***
Sepagi ini sepasang suami-istri membicarakan lagi kesungguhan untuk ikut mempersembahkan kecintaan melalui berkurban.  Keputusan untuk kembali berkurban tahun ini ditetapkan: jalan terus! Uangnya dari mana? Pertama, dari anggaran sejumlah kebutuhan yang dipangkas (lagi); dan kedua, dari dana yang sedianya ditabung buat tambah-tambah beli laptop. “Semoga ada berkah dari berkurban ini,” ujar sepasang suami-istri tersebut kompak.

Pengurbanan dan kesabaran tidak mungkin ditandingkan dengan pengurbanan dan kesabaran Sitti Hajar dalam menempuh berbagai kesulitan hidup. Hajar adalah istri kedua Nabi Ibrahim As yang kemudian melahirkan Nabi Ismail As dan kelak menurunkan Nabi Muhammad Saw. Selain Ibrahim dan Ismail, Hajar adalah simbol dari kerelaan berkurban untuk membuktikan kecintaan kepada Allah SWT.

Bagaimana bentuk pengurbanan dan kesabaran Hajar? Setelah menempuh perjalanan panjang selama enam bulan dengan menunggang unta, sampailah Hajar, Ismail dan Ibrahim di suatu lembah gersang yang sekarang dikenal sebagai Mekah. Lembah yang tidak berpenduduk, tidak ada tanaman, tidak ada sumber air (sungai/sumur), hanya ada gunung batu dan padang pasir. Rupanya Ibrahim hanya mengantarkan Hajar ke lembah tersebut karena setelahnya Ibrahim pamit atas perintah Allah SWT. Tinggallah Hajar dan si kecil Ismail.

Ketangguhan Hajar pada pengurbanan dan kesabaran sudah teruji. Bahkan ketika persediaan air mereka telah habis, Hajar kemudian memutuskan berlari antara Bukit Safa dan Marwah untuk mencari air. Jarak keduanya sekitar 450 meter. Hajar tidak menemukan air hingga atas izin Allah SWT  air justru keluar dari  bekas kaki Ismail di tanah setelah Ismail yang menangis memukulkan kakinya di tanah.

“Dan sesungguhnya, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 96).
Brunswick, 20 Oktober 2013


Monday, April 29, 2019

29 April (4): Biarlah Ruang Rindu Itu




Senin, 29 April 2019. Awan tebal masih menggantung di sebagian langit Makassar. Sisa-sisa air yang membonceng di awan tersebut mungkin belum seluruhnya jatuh saat hujan deras semalam. Bahkan rintik-rintik hingga subuh tidak serta merta menurunkan seluruhnya. Maka boleh jadi sore ini atau di malam hari hujan kembali merangkul kota ini. Hujan yang airnya akan mengalirkan kenangan hingga jauh ke muara hati.

Beberapa hari yang lalu aku tancapkan bunga di atas ubun-ubunmu. Bunga dengan daun berwarna merah cerah. Meski belum pernah aku tengok lagi sejak aku tanam tiga belas hari yang lalu, bunga itu akan tumbuh subur. Selain karena hujan masih datang sesekali  menyiram bunga itu, ada embun di pucuk bunga yang meresap ke dalam batang. Air embun bergerak masuk melalui pori-pori batang hingga sampai ke akar. Tetesan air bening dari akar jatuh tepat di dadamu. Itulah perantara rindu kita.

Aku tahu selain bunga berdaun merah itu ada banyak hiburan di sekelilingmu. Dari gesekan batang-batang bambu yang melahirkan musik alam, angin yang berdesir, hingga getaran lembut daun-daun bambu kering yang melayang jatuh. Tetapi aku selalu menggengam khawatir yang berlebihan. Aku menganggapmu kesepian di sana. Ternyata, dirikulah yang memeluk sunyi.

Senin, 29 April 2019. Sinar matahari timbul tenggelam. Awan tebal di sana-sini menghalangi sinar matahari konsisten tetap terang. Beruntunglah ada tiupan angin yang sesekali menggerakkan awan menjauh dari  hadapan matahari. Apakah ini semacam siasat dari ketiganya supaya hari ini cuaca Makassar menjadi lebih adem dan sejuk?

Pada sejuk ada harapan ketenangan. Keinginan yang menyala-nyala dapat diredupkan. Kekhawatiran  meluap-luap tetap tertampung. Kesunyian yang menyergap dapat diretas. Bagaimana dengan kerinduan? Biarkanlah sejuk membebaskan rasa rindu sekehendaknya menemuimu dalam diam, Nak….

Makassar, 29 April 2019

Monday, April 30, 2018

29 April (3): Bila Kelak Dipertemukan Kembali...





29 April 2018. Hari ini Makassar cerah berhias awan yang terlihat sangat putih. Mestinya saya berada di sisi kamu seperti yang saya inginkan. Tetapi saya tidak kuasa mewujudkannya. Sangat besar keinginan hati ini merapikan batu-batu yang mengelilingi gundukan tanah keringmu. Juga membersihkan daun-daun bambu dan ranting kecil kering yang berjatuhan dan berserakan di atas tanah itu.
Biasanya saya akan sangat menikmati berduaan denganmu di keheningan. Dalam pertemuan dengan bahasa dan gerik kita masing-masing yang sudah berbeda. Meski demikian, rasa kita sama yakni merindukan pertemuan. Daun-daun kering dari rumpu bambu yang menutupi tanahmu menyerupai selimut,  tentu itu akan sangat menghangatkan di dingin malam. Sementara rindang rumpun bambu akan menjagamu dari terik matahari.
Sejak beberapa pekan lalu saya merencanakan untuk mengunjungimu di hari ini.  Saya akan datang untuk merangkul kamu. Saya akan menimang-nimang kamu. Saya akan duduk persis di samping kamu lalu menceritakan segala kehebatan rindu yang saya pendam kepada kamu. Ternyata saya tidak datang dan itu membuat saya sangat sedih.
29 April 2018. Hari ini Makassar cerah berhias awan yang terlihat sangat putih. Saya tidak memilih berada dalam keramaian dan menampik kesunyian bersama kamu. Walaupun ada banyak gelak tawa, senda gurau, dan percakapan-percakapan yang terdengar riuh. Adakalanya saya mengambil jeda dari keramaian itu karena dirimu tiba-tiba berkelabat dalam ingatan saya.
Tentang ingatan saya ini kepada kamu, sungguh tidak akan sirna. Ia mewujud api abadi yang selamanya menyala. Apinya sedang tidak akan membesar apalagi membakar. Apinya sedang tidak akan pernah mengecil apalagi padam.
Jadi kalau saya berada di keriuhan banyak orang hari ini, percayalah itu tidak mengisi dan menutupi sebuah lubang besar di hati saya. Lubang itu masih terbuka. Saya merasakan lubang itu memiliki pusaran sebagaimana pusaran air. Ia sesekali menyeret saya dalam sedih yang berlarut meski tidak sampai menenggelamkan saya dalam kedalaman duka.
29 April 2018. Hari ini Makassar cerah berhias awan yang terlihat sangat putih. Ada ingatan pada putih lantai yang mengelilingi Ka’bah. Lantai tempat saya duduk tepekur dalam permohonan agar kelak bertemu dirimu kembali. Tidak jauh dari bekas tapak kaki atau makam Nabi Ibrahim a.s. yang diabadikan itu, beberapa meter di belakangnya, seusai thawaf perpisahan, saya merapal doa-doa pengharapan semoga pertemuan kita kelak akan lebih syahdu, Nak….
Makassar, 29 April 2018

Friday, November 10, 2017

Lelaki Tua di Jok Depan




Siang yang terik. Matahari seperti sedang membakar bumi. Angin yang hanya sesekali berhembus tidak kuasa meredam panas; mungkin karena debu-debu yang ikut beterbangan telah menyerap semua kandungan airnya.
Panas dari terik matahari menyatu dengan panas dari api ban yang dibakar; menyatu dengan kata-kata panas dari sejumlah demonstran; dan menyatu dengan panasnya hati para pengguna jalan. Ya, hari ini, 10 November, tepat di Hari Pahlawan, para demonstranmenggelar demonstrasi!
Ratusan kendaraan berjejal. Mengular hingga satu-dua kilometer. Bergerak sedikit, lalu berhenti lagi. Bunyi klakson, teriakan para supir, dan irama berbagai genre musik dangdut, pop, slow rock dari tape angkutan kota (angkot) memekakan teliga.
Dari ratusan kendaraan, umum dan pribadi, yang mengantri berjam-jam untuk lepas dari aksi demo, pada satu angkot duduk seorang lelaki tua di jok depan, bersebelahan dengan supir. Dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam. Rambut putihnya mengkilap menunjukkan betapa dia menyapuhnya dengan minyak rambut secara teratur. Kaca mata minus bergagang coklat tua tidak bisa menutupi sinar matanya yang tajam; seperti ada semangat yang masih menyala di dalam sana. Di bagian belakang angkot, dua jok panjang di kiri dan kanan penuh. Di deret kanan duduk enam penumpang, di deret kiri duduk empat penumpang.
Angkot di mana seorang lelaki tua duduk di jok depan semakin dekat ke titik para demonstran yang sedang berorasi. Jarak yang tadinya 500 meter kini tinggal 100 meter. Meski untuk menempuh jarak tersebut setiap kendaraan butuh 15-20 menit. Sungguh kemacetan yang parah. Terlihat beberapa polisi berjaga-jaga dan mengatur lalu lintas; namun mereka seperti tidak berdaya membujuk para demonstran membubarkan diri, atau setidaknya membujuk para demonstran untuk memberi akses jalan yang lebih lebar sehingga kendaraan leluasa lewat.
Dari jarak 100 meter lebih jelas terlihat titik demonstrasi. Ya, sekitar tiga puluhan anak-anak muda meneriakkan kata-kata perlawanan, bernyanyi dan bersorak. Sebagian mengibarkan bendera merah putih dan atribut organisasi mereka. Sebagian yang lain memegang spanduk bertuliskan kata-kata kecemasan, keprihatinan, dan penolakan. Tiga dari mereka menyampaikan orasi dari atas kepala mobil truk secara bergantian. Mereka menguasai tiga lajur jalan dan hanya menyisakan satu lajur bagi kendaraan lewat.
Angkot di mana seorang lelaki tua duduk di jok depan beringsut perlahan, dan tulisan-tulisan serta pidato-pidato para demonstran itu semakin terlihat dan terdengar jelas. Di antara isi spanduk-spanduk itu: “Mengusir penjajah selesai, mengusir koruptor?” “Stop gaji pensiun koruptor di DPR!” “Bangsa besar adalah yang menghargai pahlawannya!” Dan banyak tulisan-tulisan lainnya.
Orasi tiga tokoh demonstran seolah menjelaskan detail dari tulisan-tulisan tersebut. Ya, belasan mahasiswa itu menggunakan moment Hari Pahlawan merespons banyak persoalan di negeri ini. Dari soal penegak hukum yang semakin tidak kebal korupsi, para pensiunan anggota DPR yang menerima gaji pensiun, bahkan yang berstatus koruptor sekalipun, hingga nasib para eks pejuang yang kurang mendapatkan perhatian pemerintah; tunjangan pensiun seadanya dan tempat tinggal dengan status rumah dinas yang sewaktu-waktu harus mereka tinggalkan.
Ayo kawan-kawan, di hari yang heroik ini, Hari Pahlawan, mari kita kembali suarakan perjuangan melawan korupsi, perlawanan terhadap ketidakadilan demi kesejahteraan rakyat! Bayangkan kawan-kawan, bagaimana mungkin para mantan anggota DPR itu menerima gaji pensiun padahal mereka tidak lebih dari lima-sepuluh tahun duduk di dewan, itu pun dengan kinerja seadanya, malas ikut rapat, jarang menemui konstituen mereka. Ironisnya, kawan-kawan, bahkan mantan anggota dewan yang tersangkut korupsi juga menerima uang pensiun! Kawan-kawan, inilah datanya, gaji pensiunan mantan anggota dewan yang mencapai empat hingga lima juta rupiah. Cobalah bandingkan dengan gaji pensiun para veteran kita yang hanya berkisar dua juta rupiah! Mana keadilan untuk para pejuang kita? Mana keadilan buat rakyat?”


Kecuali lelaki tua, tidak satu pun dari sepuluh penumpang lainnya yang menyimak orasi para demonstran. Semua asyik dan sibuk dengan aktivitas masing-masing; memainkan telepon selular, mengintip halaman media sosial, terkantuk-kantuk oleh buaian lantunan lagu pop terbaru yang agak melankolis dari tape angkot. Bahkan, tiga pelajar dari satu sekolah menengah atas sama sekali tidak mendengarkan apa pun kecuali musik-musik dari headset mereka.
Aksi demo memang bukan lagi hal baru bagi penumpang angkot itu dan juga bagi seluruh penduduk kota. Orasi pun telah menjadi pidato-pidato yang selalu terdengar sama. Hal itu karena hampir setiap muncul isu nasional, peringatan hari-hari nasional dan internasional selalu disambut dengan demo lokal. Tidak ada mengetahui persis kenapa di kota ini tiba-tiba mudah sekali menggelar demo, seperti mudahnya jamur-jamur bertumbuhan di musim hujan. Mulai dari demo dengan puluhan massa hingga yang hanya belasan massa tetapi dengan dampak yang sama, kemacetan parah.
Angkot di mana lelaki tua duduk di jok depan sudah akan melewati titik demonstrasi ketika para demonstran berinisiatif lain dengan memalang jalan. Memasang batu dan kayu besar pada satu-satunya lajur jalan yang bisa dilalui saat ini. Angkot yang ditumpangi kakek tua terhenti persis di depan batu-batu besar tersebut.
Kecuali lelaki tua itu, sepuluh penumpang lainnya, termasuk supir, hanya bisa menyembunyikan amarah dalam diam. Lalu mulai sibuk dengan telepon selular masing-masing. Membuka menu kontak dan ramailah angkot dengan suara para penumpang yang sedang menelepon. Ibu yang duduk paling belakang terdengar menghubungi guru di sekolah anaknya jika dirinya telat menjemput, sedangkan bapak setengah baya yang duduk di belakang jok supir terdengar meminta maaf pada istrinya tidak bisa mengantar ke dokter kandungan.
Demonstrasi makin memanas. Beberapa polisi yang semula hanya mengawasi di kejauhan mulai merapat ke titik demonstrasi. Mencoba melakukan negosiasi agar blokade jalan kembali dibuka. Tetapi harapan polisi seperti bertepuk sebelah tangan. Para demonstran malah lebih menguatkan barisan, saling bergandengan tangan, dan bernyanyi lagu-lagu perjuangan.
Bunyi klakson, teriakan supir-supir, alunan musik dari tape kendaraan, ditambah pekikan orasi yang lantang, semuanya tumpah ruah di jalanan, melayang-layang di udara bercampur asap hitam dari ban yang dibakar.
Tambahan satu satuan setingkat pleton dari Brimob baru saja tiba di lokasi demonstrasi. Sepertinya petugas kepolisian sudah mengantisipasi jika kondisi terburuk terjadi: bentrok dengan para demonstran. Derap suara sepatu laras yang membentur aspal seharusnya menggetarkan hati para demonstran. Tetapi ternyata tidak karena anak-anak muda itu telah lama menghimpun keberanian dalam dada mereka. Kini kedua kelompok sudah berhadap-hadapan.
Pintu angkot di mana lelaki tua duduk di jok depan terbuka. Lelaki tua itu turun dari mobil dan berjalan ke arah dua kelompok yang mulai terlibat aksi saling dorong. Bentrok polisi dan demonstran hanya akan memperparah situasi. Bentrok yang akan semakin merugikan masyarakat. Tidak berguna mempertontonkan keberanian masing-masing dengan cara seperti ini. Keberanian dan kepahlawanan dalam falsafah para pejuang adalah pengorbanan membela kebenaran. Dan kedua kelompok ini jika pada akhirnya bentrok maka keduanya hanya berani tetapi sama sekali tidak membela kebenaran sehingga tidak pantas dipredikati sebagai pahlawan.
Lelaki tua itu melangkah dengan kaki tegap, kaki yang masih kuat menopang tubuh ringkihnya. Ratusan pasang mata, dari supir, para penumpang hingga para wartawan berbagai media menunggu gerangan apa yang akan dilakukan lelaki tua itu. Sambil berjalan, dia membuka jaket hitamnya dan menghempaskan ke tanah. Lelaki tua itu, tanpa jaket hitamnya, ternyata mengenakan baju berwarna hijau yang di dadanya berbaris atribut-atribut. Dia merogoh peci dari kantong baju, peci berwarna kuning dengan logo bintang lima di sisi kiri, kemudian dikenakan di kepalanya. Ya, lelaki tua itu nampak gagah dalam seragam veteran pejuang.
Tidak ada yang mengetahui apa yang lelaki tua itu katakan kepada koordinator demonstrasi dan kepada pemegang komando lapangan dari pihak kepolisian. Tentu hanya mereka bertiga yang tahu. Yang jelas, setelah pembicaraan mereka bertiga, demonstran bersedia membuka blokade jalan dan para polisi bergerak mundur. Supir dan para penumpang senang karena kendaraan bisa lewat kembali.
Lelaki tua, para demonstran, dan bapak-bapak polisi telah menjadi pahlawan hari itu. Bukankah pahlawan berarti memberi manfaat bukan susah?  Bukankah pahlawan adalah 'phala-wan' (sansekerta); yakni orang yang pada dirinya menghasilkan buah (phala)?
Esoknya, tidak satu pun media yang memberitakan demonstrasi dengan banyak bumbu heroisme tersebut dari seorang lelaki tua; mungkin karena tidak berlangsung ricuh.
Melbourne, 10 November 2013

Wednesday, November 8, 2017

Perokok Berkurang di Zaman Now



Menyalin berita dari AlJazeraa, tembakau dianggap masih menjadi faktor utama penyebab penyakit-penyakit kronis selain kanker dan jantung. AlJazeera mengambil data badan kesehatan dunia WHO yang memperkirakan tembakau berkontribusi pada kematian penikmatnya (khususnya perokok) di seluruh di dunia sekitar 7 juta jiwa setiap tahunnya. Meski demikian, berkembang kabar baik bahwa jumlah perokok dalam 20 tahun terakhir berkurang signifikan.
Apa yang membuat jumlah perokok terus menurun? Sejumlah negara mulai memperketat kebijakan tembakau khususnya yang terkait produksi rokok. Kebijakan menaikkan pajak produk tembakau adalah satu cara yang dinilai paling efektif melawan kekuatan perusahaan tembakau. Selain itu, sejumlah negara juga sukses dalam upaya menelorkan kebijakan menaikkan harga rokok.

Australia adalah contoh negara yang berhasil menekan jumlah perokok dengan menetapkan harga rokok yang cukup tertinggi, bahkan tertinggi di dunia yakni $18 per pack (setara Rp180 ribu per bungkus). Berdasarkan daftar harga rokok negara-negara di dunia, Australia ($18 per pack) adalah yang paling mahal, menyusul Selandia Baru ($16.30), Islandia ($12.99), Norwegia ($12.00), dan Bermuda ($11.77). Sedangkan negara-negara dengan harga rokok termurah adalah Nigeria ($0.74 per pack), kemudian Ukraina ($0.99), Kazakhstan ($1.02), Vietnam ($1.06), dan Armenia ($1.14).


Laporan terkini dari Australian Institute of Health and Welfare (AIHW) tahun 2016 menyebutkan, dalam 20 tahun terakhir jumlah perokok di Australia menurun hingga 50 persen. Pihak AIHW membandingkan data perokok dua periode yang berjarak lebih dua dekade yakni 1989-1990 dan 2014-2015. Data perokok berusia 18 tahun ke atas pada periode 1989-1990 adalah 27.4 persen (laki-laki) dan 23.8 persen (perempuan) yang menurun pada periode 2014-2015 menjadi 17.0 persen (laki-laki) dan 12.4 persen (perempuan). 

Harga rokok yang tinggi, pajak tembakau yang dinaikkan, bungkus rokok yang dikemas dengan gambar-gambar seram terkait penyakit akibat merokok, serta pengaturan yang super ketat tempat-tempat di ruang publik yang membebaskan merokok adalah kebijakan-kebijakan penting yang dilakukan Australia.

Merokok di Australia memang harus lihat-lihat tempat. Tidak semua ruang publik boleh merokok. Di halte-halte tram, kereta, dan bis, misalnya, terpasang larangan merokok yang jika dilanggar akan menerima denda hingga $300 (Rp3 juta). Dari mana ketahuan? Jangan khawatir tidak ketahuan kalau melanggar aturan di Australia karena CCTV ada di mana-mana. Pun kalau sudah berada di area yang dibenarkan untuk merokok jangan sampai lengah membuang puntung rokok. Tempat sampah disediakan cukup lengkap di Australia dari sampah makanan, sampah daur ulang, hingga sampah puntung rokok. Jadi jangan buang sembarangan puntung rokok karena denda lumayan besar mengintai antara $75 hingga $200.
Berbagai kebijakan yang telah dilakukan Australia menempatkan negara terbesar di Pasifik tersebut juara dalam memerangi perokok. Angka perokok harian di Australia adalah yang terendah diantara negara-negara OECD (Organisation for Economic Cooperation and Development). Data statistik kesehatan OECD pada tahun 2014, perokok berusia 15 tahun ke atas di Australia hanya 13.0 persen. Bandingkan dengan Inggris (UK) yang besarnya 19.0 persen, di Kanada 14.0 persen, dan 12.9 persen di Amerika Serikat.

picture Daily Mirror

Tuesday, November 7, 2017

Ketika Putaran Bumi di Australia "Terhenti"



Event apa yang membuat putaran bumi di Australia, terutama di Melbourne, seolah-olah sejenak “terhenti”?

Jawabannya bukan Australia Open, Formula One, MotoGP, Grand Final Australia Football League (AFL), dan bahkan, bukan Federal Election untuk menentukan perdana menteri. Event tersebut tidak lain Melbourne Cup Day yang juga terkenal sebagai ajang pacuan kuda tahunan terbesar yang digelar setiap Selasa pertama di bulan November.

Ya, hari ini Selasa (7/11) event tersebut tengah berlangsung dan baru saja menyelesaikan puncak pacuan pukul 3.20 siang waktu Melbourne yang dimenangkan kuda ‘Rekindling’ yang di-joki-i oleh Corey Brown. Sebagai pemenang, Rekindling berhak atas hadiah Rp3,6 miliar dari total hadiah Rp6,2 miliar.

Mengapa event ini menjadikan bumi di Australia sejenak “terhenti”? Tidak saja karena event pacuan kuda ini sejak dahulu dijuluki “the race that stops the nation”, tetapi juga karena antusiasme orang-orang untuk datang di arena pacuan Flemington Racecourse begitu tinggi. Rata-rata setiap tahun jumlah penonton yang datang langsung kurang lebih 100 ribu orang dan yang menyaksikan melalui TV, memantau melalui internet, mendengarkan dari radio baik di Australia maupun di sejumlah negara mencapai 650-700 ribu orang. Pusat pertokoan tutup. Dan menjelang puncak lomba pukul 3 siang jalan-jalan mendadak sangat sepi karena bagi mereka yang tidak sempat datang ke Flemington, mereka berkumpul di kafe-kafe atau berdiam di rumah masing-masing menyaksikan lomba dari layar TV.


Tetapi tidak semua orang di Australia menyambut senang dan gembira dengan Melbourne Cup Day yang sekarang menjadi public holiday untuk negara bagian Victoria dan di wilayah Australia Capital Territory (ACT). Saya memilih beberapa orang secara random untuk memintai tanggapan mereka seputar Melbourne Cup Day.

Giuseppe, migran asal Italia yang telah menetap di Australia kurang lebih 51 tahun, mengatakan tidak setuju dengan Melbourne Cup Day karena menjadi ajang untuk berjudi. Orang-orang membuang-buang uang untuk sesuatu yang sama sekali tidak lebih penting ketimbang membelikan makanan buat keluarga mereka. Senada dengan Giuseppe, Alejandra yang baru datang dari Chili beberapa bulan lalu juga tidak sepakat. Menurutnya, total hadiah $6,2 juta (sama dengan Rp62 miliar jika kurs Rp10.000 untuk $1) terlalu besar untuk ajang pacuan kuda sementara di belahan dunia lain begitu banyak orang-orang yang tidak punya uang untuk membeli makanan.

Tetapi Jian mempunyai pendapat lain. Jian yang telah menetap di Australia selama 21 tahun mengatakan, dari sisi ekonomi Melbourne Cup Day bagus karena menggerakkan aspek-aspek ekonomi. Orang-orang dari berbagai kota di Australia, bahkan dari berbagai negara, akan berkunjung ke Melbourne. Mereka datang bukan hanya untuk menonton tetapi juga berbelanja.

Seorang staf pengajar di lembaga NGO, menjelaskan lebih detail alasan orang-orang yang tidak begitu senang pada Melbourne Cup Day. Menurutnya, hal paling mendasar adalah karena perlakuan terhadap kuda termasuk kejam. Sejak kecil kuda-kuda itu terbatas ruang geraknya dalam kegiatan latihan saja, kadang kuda-kudatersebut diberikan makanan penamah energi yang tidak normal bagi binatang, dan dalam arena pacuan kuda-kuda sangat mungkin jatuh dan cidera. Ironisnya, setelah kuda-kuda tersebut dianggap tidak bisa maksimal lagi untuk ikut ajang pacuan kuda atau cidera, maka nasibnya berakhir di tempat-tempat pemotongan hewan.

Kenapa nasib kuda-kuda eks-pacuan umumnya berakhirnya di rumah pemotongan hewan? Pertama, karena kuda eks-pacuan mengalami cidera yang mustahil bisa kembali normal. Hanya sekitar 2 persen dari kuda-kuda itu bisa kembali normal. Kedua, kuda eks-pacuan tidak memilki keahlian lain selain di lintasan pacu karena sejak kecil memang dilatih untuk itu. Akibatnya, setelah pensiun dari lintasan kuda tidak dapat digunakan untuk tugas yang lain. Ibaratnya orang yang sejak kecil dilatih/fokus untuk satu kegiatan, nah, tentu saja orang tersebut hanya bisa mengerjakan yang diajarkan kepadanya saja.


Kelompok yang tidak setuju gelaran Melbourne Cup Day telah memulai aksi protes mereka satu-dua hari menjelang hari-H. Kemarin, Senin (6/11), sejumlah orang berkumpul untuk mengampayekan anti-pacuan kuda di jalan yang juga nantinya menjadi tempat para pendukung pacuan berparade. Dan hari ini, Selasa (7/11), ketika orang-orang berbondong-bondong ke Flemington untuk berlibur sambil menikmati acara pacuan kuda, kelompok yang anti-pacuan kuda juga bergerak ke Flemington untuk berlibur dengan acara yang berbeda: menentang bentuk-bentuk kekejaman terhadap binatang.

Sejarah Melbourne Cup Day


Melbourne Cup Day untuk tahun ini (2017) adalah pacuan yang ke-156 sejak pertama kali digelar pada tahun 1861. Selain hadiah uang yang fantastis pada ajang dengan jarak yang ditempuh 3,200 meter ini , hal lain yang membuat event ini menjadi gemerlap karena berangkai dengan ajang lain yakni Melbourne Cup Carnival. Sebenarnya Melbourne Cup Carnival ini bukan ajang tersendiri tetapi yang melengkapi Melbourne Cup Day. Para penonton yang datang, terutama perempuan, menggunakan pakaian dan topi terbaik mereka untuk turut dalam acara parade.

Ya, boleh dibilang Melbourne Cup Day tidak sekedar lomba pacuan kuda tetapi ajang fashion terbesar. Data 2012 lalu, ajang “fashion” ini menampilkan kurang lebih 46,461 jenis topi, 29,990 tas jinjing, serta 57,334 pasang sepatu.

Meski Melbourne Cup Day sebagai pacuan kuda terbesar diselenggarakan di Melbourne, tidak berarti lomba pacuan kuda hanya diselenggarakan di Melbourne. Pada hari itu, di beberapa kota besar hingga kota-kota kecil lainnya di seluruh Australia juga menggelar lomba yang sama sebagai rangkaian dari Melbourne Cup Day di level lokal.
 Brunswick, 7 November 2017


Wednesday, October 11, 2017

Bersepeda London-Makkah, Rashid Berhaji Bantu Anak Jalanan


Bersama Brother Rashid Ali (Picture: Ahmad Syam)

Malam 11 Dhul Hijjah 1438 H (4 September 2017) mabit malam kedua di Mina. Saya tidur cukup pulas karena seharian jalan kaki puluhan kilometer. Berjalan empat kilometer dari tenda di Mina ke lokasi Jamarat untuk melempar. Selanjutnya dari Jamarat ke Masjidil Haram yang juga berjarak empat kilometer menyusuri terowongan. Melakukan Thawaf Ifadah di lantai kedua yang dikira-kira untuk tujuh putaran berkisar tujuh kilometer, kemudian tujuh kali bolak-balik antara Bukit Safa’ dan Bukit Marwah yang jika ditotal jaraknya sekitar empat kilometer. Dan, setelah Thawaf dan Sa’i Ifadah, saya kembali ke tenda di Mina dengan berjalan kaki delapan kilometer dari Masjidil Haram. Total hampir 30 kilometer saya berjalan kaki.
Maghrib ketika saya sampai di tenda. Usai shalat saya merasa tubuh agak dingin. Rencana mandi tertunda karena tubuh saya menggigil. Saya berbaring dalam balutan selimut tipis dan tertidur sampai saya dibangunkan untuk Isya dan makan malam. Tidur sehabis Maghrib dan makan malam membuat stamina saya kembali normal. Biar lebih segar saya masih menyempatkan mandi sebelum menutup malam dengan kembali beristirahat.
Saya bangun sekitar pukul 02.30. Waktu Shubuh kurang lebih pukul 05.00 tetapi agar tidak terjebak dalam antrian panjang bersama jamaah lainnya di kamar mandi umum, maka segala urusan terkait kamar mandi mesti tuntas sebelum Shubuh.
Selasa, 12 Dhul Hijjah, awalnya saya berencana berangkat ke Jamarat untuk melempar seusai Dhuhur sekitar pukul 12.30an. Tetapi ditahan oleh petugas di pintu maktab. Saya memaksa agar diizinkan keluar dari kawasan maktab namun petugas tersebut bersikukuh menyarankan saya tetap berada di tenda dulu hingga pukul 14.30. Ya, baiklah. Saya balik ke tenda dan menunggu sekitar dua jam.

Maktab 44 Australia & Eropa (Picture: Ahmad Syam)

Apa alasannya saya tidak boleh ke Jamarat
? Petugas pintu di maktab itu, seorang anak muda dengan Bahasa Inggris yang sangat fasih (tentu harus berbahasa Inggris karena bertugas di maktab Eropa dan Australia hehehe...) menjelaskan kondisi terakhir di kawasan Jamarat yang padat merayap. Maka atas perintah pengelola haji pemerintah Saudi, kata dia, jamaah yang masih di luar kawasan Jamarat ditahan dulu tidak berangkat untuk melempar sebelum pukul 14.30.
Puncak kesibukan jamaah haji bermula di 8 Dhul Hijjah ketika berangkat mabit (bermalam) di Mina. Paginya,  usai Shubuh, 9 Dhul Hijjah, rombongan jamaah bergelombang menuju Padang Arafah. Setelah hampir seharian di Arafah, sore hingga larut malam jamaah haji bergerak ke Musdalifah untuk bermalam sekaligus mengumpulkan minimal 71 kerikil kecil buat melempar di Jamarat. Usai shalat Shubuh kemudian meninggalkan Musdalifah menuju Jamarat pada 10 Dhul Hijjah yang bertepatan dengan pelaksanaan shalat Idhul Adha bagi yang tidak sedang berhaji. Usai melempar ketiga Jamarat lalu bercukur yang memungkinkan jamaah bisa menanggalkan pakaian ihram dan ketentuan-ketentuan ihram lainnya.
Adapun agenda haji baru tuntas setelah Thawaf dan Sa’i Ifadah yang bisa dilaksanakan antara 10 hingga 13 Dhul Hijjah. Pada saat yang sama, antara 11 dan 13 Dhull Hijjah jamaah kembali ke tenda-tenda di Mina untuk dua-tiga malam yang dirangkai dengan melempar Jamarat setiap harinya.
Agenda yang sudah terjadwal di mana jamaah haji melakukan aktivitas di waktu dan tempat yang sama sangat memungkinkan terjadi kepadatan-kepadatan, terutama di dua titik yakni di Jamarat bagi yang sedang melempar dan di Masjidil Haram bagi yang sedang Thawaf dan Sa’i Ifadah. Apalagi ketika hampir sebagian besar jamaah berpikiran sama tentang waktu-waktu yang paling afdhal.  Misalnya, waktu paling afdhal melempar Jamarat adalah sehabis Ashar maka bisa dipastikan tumpukan jamaah di waktu itu.

Karenanya, pengaturan jadwal yang dilakukan petugas, termasuk yang dilakukan petugas pintu maktab di atas sangat penting apalagi disertai laporan situasi terkini, baik di Jamarat maupun di Masjidil Haram.
Meski tertahan di tenda selama dua jam tetapi saya tetap bersyukur karena setidaknya bisa terhindar dari kondisi berdesak-desakan di Jamarat. Di sepanjang perjalanan kurang lebih satu jam memang tumpukan-tumpukan jamaah masih terlihat terutama saat berada dalam terowongan, tetapi secara keseluruhannya lancar.
Usai melempar Jamarat Aqabah, Jamarat terakhir dari tiga Jamarat, di lantai ketiga, saya turun ke lantai dasar melalui eskalator. Pada eskalator terakhir yang menuju tepat ke lantai dasar, saya melihat seseorang dengan sepedanya. Saya menyilakan dia mendahului saya. Dia tepat berdiri di depan saya sambil mengangkat sepedanya di eskalator yang bergerak. Saya melihat bendera Inggris bertengger di bagian belakang sepeda itu, serta merta ingatan saya berkelabat pada satu berita yang pernah saya baca tentang jamaah haji asal London yang bersepeda ke Makkah.
Selepas dari eskalator, saya menyapanya dan menjabat tangannya. Bertanya untuk memastikan apakah dialah pesepeda yang berangkat dari London ke Makkah untuk berhaji. Dia mengiyakan lalu kami pun berkenalan. Namanya Rashid Ali. Bersama dua orang lainnya, Abdul Hannan dan Shubo Hussain, Rashid Ali memulai perjalanan dari London pada 2 Juli 2017 dan tiba di Makkah pada 25 Agustus 2017. Mereka menempuh 56 hari perjalanan dengan melewati 13 negara: Inggris, Perancis, Jerman, Austria, Slovenia, Kroasia, Bosnia, Serbia, Bulgaria, Yunani Turki, Mesir, dan berakhir di Saudi Arabia.
Kami mengobrol sebentar saja karena waktu dan keadaan tidak memungkinkan berlama-lama. Saya juga tidak ingin dia merasa terganggu, boleh jadi dia memiliki agenda ibadah selanjutnya atau sekadar pulang ke hotel beristirahat. Sebelum berpisah kami foto bersama. Jamaah haji lainnya yang kebetulan melihat kami berfoto, ikut antri foto bersama Rashid Ali. Rupanya informasi pesepeda yang berhaji dari London ke Makkah sudah tersebar luas. Wajah Rashid Ali, apalagi sambil tenteng-tenteng sepeda berbendera Inggris, sudah dikenali banyak jamaah haji.
Kami bersalaman untuk berpisah. Tangan saya menggenggam lembaran Riyal untuk saya berikan kepada Rashid Ali sebagai sedekah.  Dia tidak mengambilnya tetapi tidak juga menolaknya. Rashid Ali mengeluarkan semacam stiker kecil beberapa lembar dari sakunya. Dia menyerahkan kepada saya dan menyampaikan bahwa untuk berdonasi bisa melalui website resmi mereka seperti tertulis di stiker tersebut. Kemudian  dia menjelaskan secara singkat tujuan perjalanannya ini yakni mengumpulkan dana guna membantu anak-anak jalanan dan anak telantar lainnya seperti korban perang atau pun korban perdagangan anak di seluruh dunia. Saya meminta tambahan beberapa stiker lagi buat saya bagikan ke teman-teman di hotel.


Dari informasi yang dihimpun dari beberapa sumber, baik di website london2makkah.com maupun di fanpage FB @London2Makkah, Rashid Ali dan kawannya menempuh total jarak kurang lebih 5000 kilometer. Strava milik Rashid Ali memberikan kompilasi selama perjalanan itu yakni: total jarak yang ditempuh 5000 kilometer, mendaki 119,060 kaki, 79,636 kalori yang terbakar dengan kecepatan rata-rata 27 kilometer per jam, 56 hari untuk menempuh 13 negara.
Perjalanan Rashid Ali dan kedua kawannya menargetkan dapat mengumpulkan 100,000 Poundsterling. Hingga selesainya rangkaian haji tahun 2017 dan mereka kembali lagi ke London, donasi yang berhasil dihimpun mencapai 66,494.99 Poundsterling atau sudah 66 persen dari target.
Demikianlah, saat berada di dua tanah Haram, Makkah dan Madinah, jamaah haji akan bertemu banyak keadaan. Adakalanya hal-hal yang menyenangkan, juga kurang menyenangkan. Keadaan yang sulit, juga yang mudah. Tersesat tidak tahu jalan, atau tiba-tiba menemukan jalan untuk pulang setelah lama berputar-putar. Allah memberikan banyak kejutan.
Namun, demikian cara Allah mengatur setiap kejadian sehingga siapa pun bisa memperbaiki atau pun meningkatkan kualitas diri sebagai proses dari menunaikan rukun terakhir dari lima rukun dalam Islam tersebut. Rukun pamungkas yang besar harapan padanya menjadi penyempurna ke-Islam-an setiap orang setelah bersyahadat, mendirikan shalat, berpuasa, dan berzakat. 

Anak-anak di Sekitar Mina (Picture: Ahmad Syam)

Pada saat yang sama, sebagaimana saya bertemu Rashid Ali, tentu saja setiap jamaah akan berjumpa dengan beragam orang. Ini hal yang pasti karena ratusan ribu orang berada di tempat yang sama. Asal negara yang berbeda-beda.  Latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan yang bervariasi. Termasuk perbedaan-perbedaan profesi, pekerjaan, dan mimpi-mimpi yang mungkin ingin dikerjakan di kelak hari.
Di tengah perjumpaan yang begitu beragam, sesekali Allah mempertemukan kita dengan yang seragam dengan diri kita. Kita bertemu, berjumpa, dan bersua dengan orang-orang yang sama dengan kita. Sama dan seragam dalam budaya, pekerjaan, hobi, atau pun impian-impian. Allah mengatur setiap kejadian sehingga tidak ada peristiwa kebetulan.

Semoga Allah menyampaikan saya kembali (lagi) dan kita semua ke Baitullaah. Aamiin Allahumma aamiin.

#terima kasih kepada Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV) di Melbourne dan Tim Sunshine Travel Hajj 2017 di Sydney serta seluruh bapak/ibu Jamaah Haji Sunshine 2017

Ka'bah from Roof View before Shubuh Prayer (Picture: Ahmad Syam)