Tuesday, July 14, 2015

Satu Dekade, Seribu Jalan Terbuka

Bu dokter seperti berpikir keras. Pilihannya ada dua dan masing-masing memiliki potensi resiko bagi si bayi dan si ibu. Kedua pilihan itu adalah: operasi caesar yakni pembedahan untuk mengeluarkan bayi dan ventouse yaitu penggunaan instrument vakum untuk menarik atau menyedut kepala bayi keluar. Dua pilihan yang mesti dijalani karena si bayi terlilit tali pusar. Dua pilihan untuk segera mengakhiri sakit yang dirasakan si ibu sehari semalam.
Pada akhirnya bu dokter memutuskan menggunakan vakum. Alhamdulillah si bayi berhasil dikeluarkan namun tidak terdengar suara tangis. Suster kemudian berseru pelan sambil menyentuhkan tangannya ke tubuh mungil tersebut: menangis! Bayi perempuan itu pun menangis.
Amira 6 bulan
Sesaat kemudian bayi seberat 2,9 kilogram dengan panjang 49 sentimeter berpindah dalam dekapan saya. Sambil melantunkan adzan dan iqamat saya terus memperhatikan benjolan di kepalanya akibat sedutan vakum tadi. Bidan menangkap kecemasan saya. Dia lalu menenangkan saya  bahwa benjolan tersebut akan diurutnya hingga mengempis.
Saya sungguh bersuka cita di Kamis (14/7/2005) malam itu. Saya tunaikan dua rakaat penanda rasa syukur. Penantian telah berjawab. Kecemasan telah berujung. Menunggui kelahiran anak pertama memang berjuta rasanya. Si pertama yang kami sematkan nama Amira. Ada harapan dari kami atas nama tersebut sebagaimana arti Amira yakni: leader! Memimpin dan membuka jalan adik-adiknya kelak. Pun, semoga suatu waktu dia menjadi pembuka jalan kemajuan dan kebaikan kehidupan banyak orang.
Batita Amira di Sydney Opera House
Amira tumbuh dengan sempurna. Air Susu Ibu (ASI) dilahapnya hingga usia 2 tahun. Selama kurung waktu tersebut tidak sekali pun dia menyentuh susu formula. Dia begitu anti susu formula. Sekali waktu pernah disodori sebotol susu formula dan ditolaknya. Maka tercatat dalam sejarah hidupnya: Amira tidak pernah menggunakan dot!
Konsisten dengan ASI berbuah manjur untuk daya tahan tubuhnya kini. Alhamdulillah, Amira termasuk jarang sakit. Misalnya, pada cuaca dingin ketika seisi rumah sudah terserang flu dia survive sendirian. Ya…Amira telah menyemai hasil dari investasi ASI ke tubuhnya saat masih bayi-batita.
Amira kecil, dan hingga kini, adalah anak perempuan yang pemalu dan pendiam jika berada di luar rumah. Tetapi tidak demikian jika dia berada dalam lingkaran keluarga. Di rumah Amira tergolong anak yang banyak bicara. Setiap hal baru yang ditemuinya di luar: di sekolah, di tempat kawan bermainnya, dan di tempat mengaji selalu menjadi bahan obrolan menjelang tidur.
14 Juli 2005 ke 14 Juli 2015 telah berjarak 10 tahun. Amira telah mewarnai kehidupan kami selama satu dekade. Dia telah membukakan ribuan jalan bagi kehidupan kami, kehidupan orangtua-nya. Dia telah memimpin kami menapaki sekian rupa kehidupan. Bahagia. Sedih. Tawa. Tangis. Wajahnya yang tenang mendamaikan kami. Matanya yang teduh adalah telaga kehidupan kami. Berbahagialah selalu, Nak! #Amira Fatiha Ahmad
Brunswick, 14 Juli 2015
Catatan:
Amira is an indirect Quranic name for girls that means “leader”, “commander”, “chief”. It is derived from the A-M-R root (to command) which is used in many places in the Quran. (http://quranicnames.com)
 

Monday, July 6, 2015

Catatan Setiap 6 Juli...

Satu Dekade adalah Modal untuk Satu Milenium
(catatan kecil untuk kado pernikahan 6 Juli 2003-6 Juli 2013)

Begitu banyak peristiwa penting di dunia pada tanggal 6 Juli. Bukalah mesin pencari informasi, Google, dan ketik ‘Historical Events on 6th July’ pada kotak penelusuran maka bermunculanlah seratusan peristiwa penting itu. Dari pendudukan Belanda atas kepulauan Banda dibawah pimpinan John Pieterszoon Coen pada 1621 yang menyebabkan 15 ribu orang meninggal dunia, keberhasilan Louis Pasteur mengujicobakan untuk kali pertama vaksin anti rabies pada 1885, Jose Rizal mendirikan League Filipina pada 1892 sebagai organisasi sipil pertama yang menginspirasi perjuangan untuk bebas dari penjajahan Spanyol, hingga satu peristiwa kemanusiaan yang masih segar di ingatan yang terjadi 2012 lalu di Turbat, Pakistan ketika sejumlah pria bersenjata melakukan aksi penembakan dan menewaskan 18 orang [duh, Gusti!].

Meski tidak tercatat dalam peristiwa penting di dunia berdasarkan pengamatan dan penilaian Google di atas, bagi saya 6 Juli 2003 adalah peristiwa paling penting karena menjadi awal kehidupan baru kita. Diiringi sesekali tembang Jawa dan sedikit lagu-lagu milik kelompok musik asal Malaysia yang saat itu lagi naik daun, Raihan, pagi di Kota Salatiga seperti milik kita berdua. Tetapi, tentu saja, yang tidak kalah menyenangkannya karena  menyaksikan wajah-wajah sumringah para tetamu, termasuk puluhan anak yatim sebagai tamu istimewa kita, yang hadir memberi doa restu.

Aduhai, masih terus mengingat-ingati banyak pesan yang tumpah-ruah di hadapan kita ketika itu; menikah itu bukanlah perjalanan bersama-sama yang hanya untuk satu-dua hari, maka upayakan terus untuk menjaga stamina kebersamaan; menikah itu adalah ruang mempertemukan seluruh persamaan dan memahami seluruh perbedaan; menikah itu seperti masuk di ‘fitting room’ untuk mengepaskan pakaian kita masing-masing; dan banyak lagi petuah-petuah. Bersyukurlah karena seluruh petuah itu adalah sumber energi dan semangat.

Oh, tetapi betapa pun kita telah bersungguh-sungguh untuk selalu terjaga dengan petuah-petuah itu, toh dalam perjalanan ini, ternyata, melewati banyak batu-batu kecil. Batu-batu yang saking kecilnya sehingga membuat kita tidak begitu awas. Saya lalu teringat petuah lainnya dari seorang penyiar Radio Gamasi [satu dari beberapa radio favorit saya, red]: “kadang bukan batu besar yang membuat orang tersandung berkali-kali, tetapi orang lebih sering tertusuk batu-batu kecil”.

Semoga batu-batu kecil itulah yang membuat kita tetap terjaga. Bukankah perjalanan ini masih panjang? Hari ini (baru) 6 Juli 2013. Jika titik startnya adalah 6 Juli 2003 silam, berarti kita baru menjalani sepuluh tahun atau satu dekade. Jika Khairil Anwar dalam puisi “Aku” berhasrat besar untuk hidup seribu tahun lagi, maka kita pun boleh menyembahkan harapan untuk bersama hingga mencapai satu titik milenium, seribu tahun ke depan.

Modalnya? Ah, tentu terlalu klise untuk mengatakan bahwa modal menuju satu milenium itu adalah cinta. Modal yang lebih realistis adalah perjalanan sepanjang satu dekade yang kita lalui; sedekade yang telah mengajarkan banyak hal; sedekade bermuram lalu kembali riang; sedekade yang telah memberikan kita tiga bocah yang baik hati sebagai amanah.

Bagian akhir dari catatan ini, saya ingin mengingat lagi puisi (satu-satunya puisi yang pernah saya buat) yang kita cantumkan di undangan sepuluh tahun lalu:

Kerinduan akan peradaban baru // seperti mencintai bunga-bunga // butuh ketekunan untuk merawatnya // dan kesabaran untuk menunggui mekarnya
Karena sejatinya kaidah perubahan // selain merupakan rangkaian proses // yang jalin-menjalin dalam ruang dan waktu // juga, hampir selalu butuh disemai dengan air mata
Air mata yang akan menjadi ratusan permata // yang jatuh di atas sayap kupu-kupu // yang beterbangan penuh keriangan // diantara wewangi serta warna-warni kembang
Kupu-kupu itu telah melihat dalam sunyi pagi // isyarat datang fajar gemilang // lalu, terbang kembali // tuk menabur benih berikut // hingga menyongsong matahari terbit...

Makassar, 6 Juli 2013
-kurang lebih pukul 24...waktu makassar-