Saturday, March 15, 2014

Jumatan, Kopi, dan Komunitas Turki

Saya bukanlah penggemar fanatik kopi. Sebabnya kopi membuat jantung saya berdebar lebih kencang, sekencang saat mata saya bertabrakan dengan dua bola matanya istri. Selain itu, biasanya setelah minum kopi perut terasa kenyang meski sesungguhnya perut saya sedang kosong. Juga kopi membuat saya repot mondar-mandir ke kamar kecil.



Namun saya juga bukanlah anti-kopi. Ada saat-saat di mana saya dan kopi bersahabat. Misalnya, dalam beberapa kesempatan sebelum mengikuti suatu ujian atau tes saya biasanya terlebih dahulu minum kopi. Efeknya, saya akan lebih bersemangat menyelesaikan soal-soal. Tetapi itu belum seberapa dibanding persahabatan saya dengan kopi terkait shalat Jumat. Ya, bagi saya minum kopi termasuk “ritual” menjelang jumatan. Dua dari tiga kegiatan yang saya persiapkan terkait shalat Jumat ada hubungannya dengan kopi.
 
Persiapan pertama, pada hari Kamis saya menghindari minum kopi. Sebabnya jika saya minum kopi di hari Kamis maka persiapan kedua saya bisa berantakan. Persiapan kedua saya adalah pada malam Jumat sedapat mungkin saya beranjak tidur lebih cepat, lebih awal dibanding malam-malam yang lainnya. Paling lambat pukul 12 malam sudah harus tidur. Karena di malam Jumat harus tidur lebih awal maka saya menghindari minum kopi di hari Kamis; dengan demikian jelaslah sudah kaitan mengapa saya menghindari minum kopi pada hari Kamis agar jadwal tidur saya di malam Jumat tidak terganggu. Nah, adapun persiapan ketiga di hari ‘H’ jumatan adalah minum kopi sebelum berangkat ke masjid.

Persiapan-persiapan menjelang jumatan yang saya lakukan di atas semata-mata agar saya tidak terserang kantuk terutama saat khatib menyampaikan khutbah. Memang tidak serta-merta saya tidak terserang kantuk lagi, tetapi tetap bertahan untuk tidak tertidur setidaknya membuat saya merasa telah ber-Jumat dengan lebih khidmat dan khusyu.

Sebenarnya selain faktor internal seperti persiapan dari masing-masing orang, ada juga faktor eksternal yang membuat jamaah shalat Jumat mengantuk, bahkan tertidur. Faktor eksternal itu misalnya bisa melanda para pegawai pemerintah daerah (pemda) dan kantor-kantor instansi pemerintah. Sebagian pemda dan instansi pemerintah menjadikan hari Jumat sebagai hari senam pagi dan olahraga yang berlaku bagi seluruh pegawai. Populernya ‘Jumat sehat’. Atau, seringkali hari Jumat diprogramkan sebagai hari kerja bakti yang diistilahkan dengan ‘Jumat bersih’. Tahu sendiri khan, sehabis olahraga atau kerja bakti badan jadi pegal dan capek sehingga begitu tiba waktu shalat Jumat akhirnya ngantuk dan tertidur. Apalagi sehabis olahraga atau kerja bakti langsung dilanjut makan siang, jadinya makin pulas saja pas jumatan.

Faktor eksternal lainnya soal materi khutbah. Ini pengalaman pribadi saja bila materi khutbah menarik, apalagi khatib menyampaikannya dengan gaya komunikasi yang baik, saya bisa mengendalikan bahkan mengusir rasa kantuk saya. Tetapi tidak sedikit topik khutbah yang disampaikan kurang menarik apalagi pandangan khatib terkesan lebih banyak tertuju pada teks yang dibacanya ketimbang kepada jamaah. Kadang saya mengedarkan pandangan ke jamaah lain untuk melihat reaksi atas khutbah menarik dan tidak menarik. Ternyata, jamaah seringkali tertarik pada topik-topik aktual dan kisah-kisah sejarah dalam Quran.
 
Selain dua faktor eksternal di atas saya juga mendapati pengalaman tentang lama waktu dari rangkaian jumatan, termasuk lama waktu khutbah. Delapan bulan terakhir kebetulan saya shalat Jumat bersama komunitas Turki di Brunswick Islamic Center, Australia. Selain rangkaian acara jumatan yang tidak terlalu banyak, misalnya tidak ada pengumumani dari protokol, juga khutbah tidak terlalu panjang. Rangkaian acara jumatannya ringkas, begitu masuk waktu dhuhur maka adzan pertama dikumandangkan. Adzan selesai jamaah langsung berdiri menunaikan shalat sunnat empat rakaat yang ditengahi duduk diantara dua sujud. Selesai shalat sunnat muadzin kedua pun bersiap mengumandangkan adzan kedua di mana khatib pun beranjak naik ke mimbar. Khutbah tidak berlangsung lama. Khutbah pertama dan kedua hanya berkisar sepuluh menit.

Khutbah Jumat yang pendek dengan sarat pesan sebenarnya bukan pengetahuan dan pengalaman baru buat saya. Dahulu, guru-guru saya saat bersekolah di SMP Muhammadiyah sudah menyampaikan bahwa ritual jumatan dalam tradisi di Muhammadiyah adalah khutbahnya pendek tetapi shalatnya dibuat lama. Dan, hingga kini sepertinya tradisi tersebut masih dipertahankan.

Kembali pada cerita pengalaman mengantuk saat jumatan dan sedikit penggalan kisah ber-Jumat di Brunswick Islamic Center. Organisasi komunitas ini sebagian besar jamaahnya adalah muslim asal Turki. Secara fisik bangunan Brunswick Islamic Center lebih tepat disebut mushalla dan memang dalam peta diistilahkan hanya sebagai praying room saja, bukan mosque (masjid). Lebar ruangan hanya cukup untuk sepuluh deretan orang dewasa. Panjang dari tempat imam ke belakang hanya sekitar 24 meter. Padahal jumlah jamaah yang jumatan terbilang banyak. Akhirnya, sebagian jamaah tumpah ke jalan di belakang bangunan. Kalau matahari terik kepanasan, kalau hujan pasti basah, sesekali menerima komplain dari warga yag rumahnya sekitar tempat tersebut karena merasa akses jalannya terganggu.



Karena tempat di dalam yang terbatas itulah sehingga saya selalu berusaha datang lebih awal. Tiga puluh menit, kadang lebih cepat, sebelum masuk waktu Jumat saya sudah berada berada di mushalla itu. Nah, sambil menunggu masuk waktu dhuhur/Jumat salah seorang pengelola akan menyampaikan ceramah, semacam pengajian, yang tentu saja dalam bahasa Turki. Pada saat mendengarkan ceramah itulah saya merasa dihadapkan pada tantangan berat yakni tidak boleh mengantuk apalagi tertidur. Padahal, salah satu penyebab datangnya rasa kantuk karena bosan. Dan, mendengarkan ceramah dalam bahasa Turki membuat saya bosan. Tapi, saya tidak boleh tertidur karena jika itu terjadi malunya luar biasa. Masak dari seisi ruangan hanya saya yang tertidur.

Pada saat khutbah pun kadang saya terserang kantuk yang luar biasa. Lagi-lagi jika khutbah disampaikan dalam bahasa Turki. Untungnya, khatib sangat mengerti bahwa jamaah berasal dari ragam bahasa yang berbeda. Maka pada khutbah pertama yakni lima menit menggunakan bahasa Turki dan khutbah kedua menggunakan bahasa Inggris.

Waktu lima menit pada khutbah pertama dengan pengantar bahasa Turki kadang bagi saya terasa sangat lama. Membosankan dan menyebabkan kantuk. Tetapi, sekali lagi saya tidak boleh terlihat mengantuk apalagi tertidur. Lihatlah tidak satu pun jamaah yang tertidur. Akan sangat memalukan jika saya satu-satunya jamaah yang tertidur. Andai ini di Indonesia mungkin malunya tidak begitu besar karena tertidur kala khutbah seringkali dilakukan berjamaah alias banyak orang.

Ah, tentang rasa malu ini, sebenarnya saya lebih pantas malu di hadapan-Nya....

Brunswick, 14 Maret 2014
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/03/14/jumatan-kopi-dan-komunitas-turki-639251.html

No comments: